Depan arrow Artikel arrow Berita Dunia arrow Jika Taiwan-Amerika Perang dengan China, Siapa Didukung Australia?
Jika Taiwan-Amerika Perang dengan China, Siapa Didukung Australia? Cetak E-mail
Rabu, 04 Mei 2005
Buana Katulistiwa- Tak dapat disangkal, kemajuan besar yang dialami China beberapa dasawarsa terakhir, termasuk kedekatannya dengan berbagai negara di ASEAN khususnya dan Asia Pasifik umumnya, telah membuat berbagai negara "berpikir ulang" untuk mencari gara-gara dengannya. Pertanyaannya: jika saja perang terjadi antara Taiwan (AS) dan China, siapa kira-kira yang akan dibela oleh Australia?

Pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang sulit bagi negeri Kanguru yang selama ini dikenal sebagai "Polisi AS di Asia Pasifik" ini. Ada dua pertanyaan bagi mereka: apakah mereka akan mengelak dari kenyataan perubahan geopolitik di Asia dewasa ini yang cenderung "mendekat" ke China? Kedua, sebaliknya, apakah mereka akan berani bertindak tidak loyal kepada Amerika setelah persahabatan yang demikian erat selama ini?

Disadari bahwa perubahan "geopolitik" pasca perang dingin khusus di Asia Pasifik memang bergerak lamban daripada apa dinamika yang terjadi di permukaan dalam hubungan diplomatik keseharian. Namun begitu, Australia harus menyadari beberapa elemen kunci yang saat ini terus terbangun pasca perang dingin itu.

Pertama, kebangkitan pengaruh China. Kedua, perkembangan senjata pemusnah massal (weapons of mass destruction, WMDs). Ketiga, intensifikasi nasionalisme Asia berdasarkan sifat-sifat regionalisme Asia. Keempat, dilema besar regional atas masalah di Semenanjung Korea dan Selat Taiwan. Trend perkembangan terakhir termasuk prospek pertumbuhan kebanggaan nasional sebagai dasar dari permintaan internasional akibat perkembangan globalisasi yang lebih berkaitan antara ekonomi dan kemasyarakatan.

Demikian pula sensitivitas budaya dan etnis sebagai determinasi utama dari kebijakan luar negeri negara-negara Asia, dan kenyataan bahwa "diplomasi global" baru saat ini tampak lebih transparan daripada masa perang dingin yang lebih egaliter dengan menuntut persamaan. Bagi perencana kebijakan Australia, semua faktor ini dipaksa mendorong pembuatan kebijakan nasional sebagai respon dan membangkitkan tantangan mereka.

Australia didesak untuk mengingat kembali pernyatan Napoleon Bonaparte, yang suatu kali, mengatakan pernah berpandangan bahwa ketika China bangkit, maka dunia akan "menggigil". Dunia memang belum "menggigil" tapi wilayah Asia Pasifik telah terkesan dengan pertumbuhan kekuatan China. Perkembangan tersebut tekah dimulai dari langkah penyatuan Mao Zedong pada tahun 1949, tapi baru saat inilah China menyatakan dirinya sebagai pemain bebas pada panggung geopolitik dunia.

Memang masih terjadi perdebatan di kadalangan akademisi maupun pada jurnal-jurnal kebijakan apakah China akan menjadi pemain strategis di tingkat regional ataukah akan menjadi pemain internasional. Namun begitu, sebagai bagian dari prospek pragmentasi politik, China dipercaya akan menjadi kekuatan strategis dunia dan menjadi kompetitor geopolitik Amerika Serikat pada tahun 2020.

Ini semua terkait dengan keyakinan diri nasional, setelah asimilasi dengan Hongkong dan Macao (dan segera juga hal yang sama diyakini akan terjadi dengan Taiwan), netralisasi Rusia di utara, dan pemanfaatan ASEAN dan berbagai negara Asia lainnya, yang menentang hegemoni Amerika Serikat ke Selatan dan Timur. China telah memberikan nilai pada krisis finansial Asia dan telah menyulitkan Eropa dan Amerika Serikat dibandingkan dengan upaya mereka untuk memperoleh keanggotan dalam Organisasi Perdagangan Dunia, (World Trade Organization, WTO).

Selain itu, China juga membangun proyek kekuatan militer sebagai kekuatan terbesar di panggung Pasifik dan Samudera Hindia pada 2020. Dia juga memiliki kemampuan untuk menawan Amerika atau Rusia melalui serangan yang tak terpikirkan dan kemungkinan besar sistem pertahanan Amerika maupun aliansianya tidak akan efektif melawan kemampuan nuklir China pada saatnya nanti.

Secara khusus, Australia dipaksa juga untuk mempertimbangkan dengan serius hubungan strategis baru yang dijalin oleh China dan India, dua negara berkekuatan terbesar di Asia, yang telah bersepakat untuk melakukan serangkaian kerja sama melalui butir-butir kesepakatan yang ditanda tangani pimpinan tertinggi kedua negara di India, pada bulan April 2005 lalu. China dan India, seperti dimaklumi merupakan dua negara pemilik nuklir yang sudah sangat lama dicemaskan oleh Amerika dan aliansinya.

Hal-hal inilah yang menakutkan bagi kalangan pemerhati pertahanan di Australia (lihat dalam situs departemen pertahanannya) yang kemudian mendesak perlunya Pemerintah Australia untuk "membuat strategi baru" bagi mengantisipasi perkembangan-perkembangan ini.

PM Howard sendiri memiliki tujuan utama politik luar negeri dalam pemerintahannya, yaitu: pertama, melindungi teritorial Australia dari serangan fisik dan memelihara kapasitas Australia dalam membuat kebijakan independen. Kedua, membangun dan melanjutkan kapasitas kompetensi perdagangan dan investasi pada skala internasional, tapi dengan penekanan pada pasar Asia-Pasifik.

Ketiga, untuk secepatnya menghapuskan senjata pemusnah massal dan untuk menahan konflik regional (di dalam dan di luar Asia), peningkatan keamanan dalam menghadapi terorisme internasional, melalui migrasi tidak sah, tentang penyakit, arus pengungsi, penurunan kualitas lingkungan, narkotika dan kejahatan transnational, sehingga dapat meminimalisasikan risiko konflik global.

Keempat, untuk memelihara dan mempromosikan Australia sebagai negara yang memiliki nilai demokrasi liberal yang direfleksikan dari intelektual Eropa dan peninggalan budaya, untuk menarik minat negara-negara Asia Pasifik yang memiliki sejarah dan budaya yang berbeda (dalam The National Interest, 1997, pp. 1-16).

Bagaimanakah Australia akan memainkan politik luar negeri semacam ini dalam perkembangan regional dan dunia yang sedang berubah?

Ada yang menyarankan, Australia memerlukan untuk mengatur orkestra dengan aksi keseimbangan antara China yang bertumbuh dengan sangat kuat dan meyakinkan sebagai kekuatan regional besar, dan sebagai aliansi Amerika yang harus juga dipelihara.

Dalam urusan perdagangan, Australia harus menggandeng China, sebab negara itu telah mengambil tempat utama sebagai partner perdagangan Australia, dan juga akan menjadi partner investor utama Australia kelak. Australia harus melakukan kesepakatan dengan China secara strategis karena Beijing akan menjadi diuntungkan dari perluasan ASEAN pada jangka pendek, dan lebih mungkin dalam penyatuan Semenanjung Korea pada jangka panjang.

Untuk memiliki pemahaman yang berarti di tingkat regional ini, pihak Australia didorong untuk menyadari hubungan dengan China lebih positif yaitu menjangkau dua dekade ke depan.

Masalah utamanya adalah Taiwan. Jika Sino-American berseteru di pulau itu, Australia akan dipaksa untuk memilih sebuah pilihan yang mengerikan: apakah akan memilih China atau Amerika Serikat, karena keduanya akan memaksa Australia untuk memberikan dukungan kepada mereka.

Untuk masalah ini, kalangan pengamat Australia agaknya mengusulkan agar Australia netral saja. Namun, disadari menjadi "netral" dalam konflik yang demikian penting, dengan berharap Australia dapat menjadi mediasi bagi solusi masa depan Taiwan, dianggap sebagai kebijakan luar negeri yang bodoh. Australia mendukung Amerika, bagaimanapun dianggap terlalu riskan, tidak hanya hubungan dengan Beijing tapi juga hubungan Australia dengan negara-negara ASEAN yang juga netral karena kekuatiran retribusi China. Tapi untuk mendukung China secara terbuka bagaimanapun menjadi signal akan berakhirnya ANZUS (Australia, Selandia Baru dan AS - Australia, New Zealand and United States), dengan segala keuntungan intelijen dan teknologi yang muncul akibat aliansi itu selama ini.

Ini berarti bahwa perlunya keseimbangan antara kebijakan politik luar negeri antara Taiwan dan China. Dan pada saat yang sama, Australia didorong untuk mendukung Washington untuk setuju melanjutkan aliansi, tapi kemudian akan mendapat ganjaran menjengkelkan secara geopolitik dari PRC.

Meski begitu, pengamat juga ternyata "melirik" Indonesia dalam urusan ini. Bagi Australia, membangun hubungan Sino-Australian yang lebih kuat dapat dibangun melalui perbaikan hubungan Indonesia-Australia secara lebih keras. Hal ini rupanya dikait-kaitkan dengan kasus masa lalu, membangkitkan kalangan elite Indonesia mempersoalkan China dalam kasus komunis masa lalu. Sebagai upaya untuk menyelubungi persoalan-persoalan ekonomi dalam negeri.

Selain itu juga adalah dengan memelihara konsistensi pasukan pemeliharan perdamaian Australia di Timtim, walaupun dianggap akan menyebabkan anggaran yang tidak sedikit dalam jangka panjang. (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com