Buana Katulistiwa? Sejauh ini, rencana Amerika Serikat (AS) untuk menyerang Iran telah menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia. Amerika Serikat berdalih mengenai senjata pemusnah massal yang dimiliki Iran, termasuk tudingan melindungi para teroris. Namun, di balik tudingan itu, isu minyak justru mengemuka.
Tak terbantahkan, Iran berada pada posisi geografis yang sangat strategis, yaitu pada sisi utara Teluk Persia. Posisi ini merupakan ancaman bagi ladang minyak di Saudi Arabia, Kuwait, Irak, dan Uni Emirat Arab, yang bersama-sama memiliki lebih dari separuh cadangan minyak dunia. Iran juga ada pada posisi melintang Selat Hormuz, terusan sempit yang sehari-harinya dilewati 40 persen ekspor minyak dunia.
Tambahan lagi, Iran kini adalah penyalur gas-alam dan minyak utama ke negeri China, India dan Jepang, sehingga menjadikan Teheran sebagai bahan penting dalam permasalahan dunia. Permasalahan geopolitik yang berdimensi energi.
Michael T Klare, seorang professor studi perdamaian dan keamanan dunia pada Hampshire College, dalam sebuah artikelnya baru-baru ini, mengulas banyak mengenai potensi minyak Iran ini. Mengutip laporan terbaru dari Oil and Gas Journal, Iran merupakan ladang minyak terbesar kedua di dunia, dengan perkiraan sekitar 125,8 miliar barel. Di posisi pertama adalah Arab Saudi dengan perkiraan kandungan minyak 260 miliar barel lebih. Irak ada di posisi ketiga dengan 115 miliar barel. Dengan kekayaan minyak ini ? sekitar sepersepuluh dari persediaan total minyak dunia ? Iran memiliki peran penting dalam keseimbangan minyak dunia.
Dalam kasus Iran, menurut Klare, sebenarnya bukan hanya berkait dengan jumlah atau besaran kandungan minyak mereka, namun terkait dengan kapasitas produksi masa depan. Walaupun Arab Saudi memiliki minyak terbesar, namun saat ini kapasitas produksi mereka sudah pada tingkat maksimum (sekitar 10 juta barel per hari). Kemungkinan sulit bagi mereka untuk meningkatkan produksi untuk permintaan minyak dunia hingga 20 tahun mendatang, khususnya akibat konsumsi tertinggi yang sangat signifikan di Amerika Serikat, China dan India, yang diperkirakan akan meningkat hingga 50 persen. Iran, pada sisi lain, mempunyai potensi pertumbuhan yang pantas dipertimbangkan: sekarang memproduksi sekitar 4 juta barrel per hari, tetapi adalah mungkin untuk mendorong produksi mereka hingga 3 juta barel lagi. Itulah sebabnya arti penting Iran sebagai produsen minyak, harus berkembang tahun-tahun ke depan.
Dan ini bukan hanya soal minyak, tapi juga gas alam. Menurut Oil and Gas Journal, Iran diperkirakan memiliki 940 triliun kubik gas, atau mencapai 16 persen dari total gas alam dunia. (Hanya Rusia, dengan 1.680 triliun kubik ton, sebagai penyuplai terbesar). Sesuai dengan asumsi 6.000 kaki kubik gas sama dengan energi 1 barel minyak, sehingga kandungan gas Iran ekuivalen dengan 155 miliar barel minyak. Ini berarti bahwa kandungan hidrokarbon Iran ekuivalen dengan 280 miliar barel minyak, yang berarti kekuatan minyak dan gas Iran tak berbeda jauh dari Arab Saudi.
Dewasa ini, Iran memproduksi hanya sedikit dari cadangan gas mereka, sekitar 2,7 triliun kaki kubik per tahun. Ini berarti bahwa Iran adalah sedikit diantara pemasok gas terbesar di masa datang. Sementara, seperti diketahui, permintaan dunia akan gas alam bertumbuh pesat dibandingkan dengan sumber energi lain, termasuk minyak.
Tak diragukan perusahaan-perusahaan energi Amerika Serikat sangat senang bekerja sama dengan Iran dalam menjawab permintaan minyak dan gas. Namun hingga hari ini, mereka dilarang untuk melakukan kerja sama menyusul Executive Order (EO) 12959, yang ditanda tangani Presiden Clinton pada 1995 dan diperbaharui kembali oleh Presiden Bush pada bulan Maret 2004. Pemerintah AS akan memberikan sanksi bagi perusahaan asing yang melakukan bisnis di Iran (dibawah peraturan Iran-Libya Sanction of 1996), tapi sanksi ini tidak cukup untuk menghalangi perusahaan untuk tetap mencari akses untuk kandungan energi Iran.
China, yang memerlukan jumlah luas minyak dan gas tambahan untuk menghidupkan perekonomiannya, sedang membayar perhatian tertentu ke Iran. Menurut Departemen Energi (DoE), Iran menyediakan 14 persen dari minyak Cina diimpor 2003, dan diharapkan jumlah ini akan lebih besar di masa datang.
China juga mengharapkan bantuan Iran untuk bagian besar impor LNG (liquid natural gas). Pada bulan Oktober 2004, Iran menandatangani 100 miliar dolar AS, kontrak 25 tahun dengan Sinopec, perusahaan minyak terbesar China, untuk melakukan kerja sama pembangunan ladang gas terbesar dan yang akan diantar ke China. Jika kesepatan ini didukung penuh, maka ini akan menjadikan China sebagai pengukuhan China sebagai investor luar negeri terbesar dan menunjukkan adanya hubungan strategis kedua Negara.
India juga negara yang teguh dalam memperoleh minyak dan gas dari Iran. Pada bulan Januari 2005 lalu, Otoritas Gas India (Gas Authority of India Ltd, GAIL) menandatangani kerja sama dengan National Iranian Gas Export Corp untuk transfer 7,5 juta ton LNG ke India per tahun.
Yang lebih penting lagi, pejabat India dan Pakistan baru-baru ini sudah mendiskusikan upaya membangun saluran gas alam dari Iran ke India via Pakistan senilai 3 miliar dolar AS. Padahal kedua Negara ini adalah dua Negara yang bermusuhan akibat konflik Kashmir. Jika sudah selesai, pipa akan menghubungkan dua Negara, dan Pakistan akan menerima 200-500 juta dolar AS per tahun sebagai biaya transit. Menurut PM Pakistan Shaukat Aziz, pipa gas merupakan solusi menang-menang untuk Iran, India dan Pakistan.
Sementara Jepang - yang merupakan "sekutu" AS dalam penyerangan ke Irak tempo hari, juga tampak membangun hubungan energi dengan Iran. Pada tahun 2003, sebuah konsorsium dari tiga perusahaan Jepang memperoleh 20 persen dari pembangunan ladang minyak lepas pantai Soroush-Nowruz , di Teluk Persia, yang menghasilkan 1 miliar barel minyak. Setahun kemudian, The Iranian Offshore Oil Company menghadiahi 1,26 miliar kontrak ke perusahaan minyak Jepang, Japan's JGC Corporation, untuk me-recovery gas alam dan gas alam padat dari Soroush-Nowruz dan ladang minyak lepas pantai lainnya.
Klare kemudian menyebut, saat menyadari kekuatan Iran dalam penyediaan energi global, pemerintahan Presiden Bush mempunyai dua strategi: memaksa ladang minyak dan gas Iran dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan Amerika, dan mengalihkan perhatian pada Iran sebagai pesaing Amerika dalam pasar energi dunia. Di bawah hukum AS, langkah pertama telah dilakukan setelah Presiden mengeluarkan EO 12959, namun ini tidak seperti yang diharapkan selama Iran dikontrol oleh para Mullah anti-Amerika. Demikian pula, tudingan kepemilikan senjata pemusnah massal, sama sekali belum terbukti. Larangan Amerika Serikat terhadap produksi energi dan ekspor Iran menyebabkan Teheran tidak memiliki pilihan, kecuali untuk alasan memenuhi konsumsi dalam negeri mereka. Dalam pandangan Pemerintahan Bush, hanya ada satu cara yaitu dengan "mengubah rezim" di Iran dan menggantikannya dengan kepemimpinan yang lebih bersahabat dengan kepentingan strategis AS. (bj)