|
Buana Katulistiwa - Gulungan peta skala 1:250.000 seukuran dinding yang menjadi kontroversi penggunaan lahan skala nasional terbesar di AS pada 25 tahun terakhir ini, telah hilang tak tentu rimba. Pada peta tersebut terdapat penarikan garis batas tundra yang dianggap para pakar lingkungan sebagai Serengeti-nya AS, dan pemerhati minyak melihatnya sebagai Oman-nya AS.
Tak heran Partai Republik memberikan perhatian lebih dengan melakukan langkah-langkah yang mungkin merupakan perjuangan terakhir dalam perdebatan mengenai Kawasan Lindung Arctic, dengan mempertanyakan gulungan peta asli kawasan tersebut yang dibuat pada tahun 1978. Peta tersebut masih ada pada akhir 2002, dan kemudian hilang pada awal tahun 2003 tanpa duplikat maupun versi dijitalnya.
Dalam situs New York Times, Doug Vandegraft, kartografer di Fish and Wildlife Service, orang terakhir yang mengetahui keberadaan peta tersebut, mengatakan bahwa hanya sedikit orang yang mengetahui peta tersebut. ?Saya dapat tidur pada malam hari karena saya pikir peta tersebut bukan dicuri, akan tetapi mungkin terselip atau terbuang?, lanjutnya. Hal yang membuat Vandegraft marah, di tempat penyimpanan arsip peta tersebut, terdapat papan busa tempat penyimpanan peta yang sama persis dengan yang lama, akan tetapi tidak terdapat peta didalamnya. ?Saya merasa sakit sampai ke perut saya,? katanya. ?Saya kumpulkan orang-orang di sini, dan mereka tahu pasti saya sedang sangat marah waktu itu.?
Kemarahan Vandegraft wajar, karena tidak ada seorangpun yang tahu dari mana asalnya papan busa yang kosong tersebut. ?Hal ini membuat saya naik pitam! Bagaimana seseorang bisa mengambilnya tanpa peduli bahwa ada orang lain yang membutuhkannya?? tandasnya.
Sebagai konsekuensi dari semua itu, United States Geological Survey telah membuat peta versi baru, dan seminggu yang lalu, Komisi Energi dan Perdagangan Senat menyerahkan usulan berdasarkan peta yang baru, yang terbuka untuk pengeboran 1,5 juta acre (lebih dari 600.000 ha) dataran pesisir di kawasan lindung tersebut.
Peta baru yang menimbulkan perdebatan
Peta yang hilang diketahui tidak memasukkan puluhan ribu acre tanah suku asli Alaska di dalamnya. Di peta yang baru, tanah-tanah tersebut dimasukkan, dan membuatnya lebih terbuka untuk pengembangan energi.
Dampak dari penarikan garis di peta yang baru, paling tidak bagi tanah suku asli, masih diperdebatkan. Beberapa kalangan berpendapat bahwa pemilik aslinya, Paguyuban Kaktovik Inupiat, yang menguasai sebagian besar hak di atas permukaan tanah tersebut, dan Paguyuban Regional Lereng Arctic, yang menguasai hak mineral, mempunyai hak untuk menawarkan penguasaan energi, tak peduli di mana garis tersebut ditarik, setelah ada kejelasan dari Kongres AS.
Penasihat legislatif dari Interior Departement (Departemen Dalam Negeri AS), Jane M. Lyder, belum bergerak sejauh itu, namun dia mengatakan peta yang baru dapat menimbulkan perdebatan. ?Persoalan tersebut sungguh rumit, merubah garis di peta membuat persoalan menjadi lebih sederhana,? ujarnya. Selain itu, ia mengatakan, pemasukan tanah adat di dalam dataran pesisir tersebut memastikan bahwa tanah-tanah tersebut dilindungi oleh peraturan bahwa pemanfaatan untuk pengeboran, lapangan terbang, jalan dan gangguan permukaan lainnya tidak boleh lebih dari 2.000 acre (809.3725 ha). Dengan memasukkan tanah adat ke dataran tersebut, segala pekerjaan di kawasan tersebut dibatasi hingga 2.000 acre, tambahnya.
Doug Vandegraft, sang kartografi, mengatakan bahwa peristiwa ini telah merubah kebiasaannya. ?Apapun yang saya anggap bersejarah, kami scan dan kami kirim ke arsip nasional,? katanya.(qb) Powered by AkoComment! |