|
Buana Katulistiwa - Kebijakan Amerika Serikat secara geografis dinilai naif dalam menyelesaikan intervensi militer di Irak, kata seorang geografer dalam suatu pertemuan di Universitas Wyoming. Ia juga bicara soal nasionalisme dan rekonstruksi Irak.
Berbicara sebagai pembicara kunci dalam rangka Pekan Kepedulian Geografi (Geography Awereness Week) di Universitas Wyoming, AS, Senin (Selasa WIB), Alexander Murphy, profesor geografi pada Universitas Oregon, mengatakan, dia sebenarnya bukan dalam posisi untuk memberikan koreksi keputusan AS dalam melakukan penyerangan terhadap Irak.
Namun, kata Murphy, seperti diberitakan Star Tribune, “dengan pemahaman geografi yang sederhana sekalipun, invasi ini telah gagal mempertimbangkan berbagai hal termasuk bagaimana cara melakukan sesuatu."
Kegagalan itu, katanya, “mendorong konsekuensi kebijakan yang sangat besar.”
Dikatakan, satu dari beberapa asumsi invasi itu adalah kelompok-kelompok Syiah di bagian selatan Irak sangat membenci Saddam Hussein, dan mereka tidak akan bergabung kepada kekuatan yang akan melakukan invasi. Namun segera setelah invasi, kekuatan koalisi berhasil memperkuat oposisi mereka di bagian selatan Irak.
Kekeliruan lainnya, kata Murphy, terjadinya peningkatan pemikiran dalam terminologi “Dunia Islam” atau “Dunia Arab” dan bukan dalam perbedaan wilayah tertentu dengan sejumlah bangsa.
“Irak merupakan negeri yang rumit,” katanya, dan dia mengaku heran bahwa kenyataan ini tidak dimasukkan sebagai pertimbangan hingga sekitar tiga atau empat bulan invasi.
“Mestinya dengan pemahaman sederhana seperti ini harusnya melahirkan beberapa pendekatan kebijakan dan tantangan yang berbeda,” katanya.
Ini harusnya menjadi jelas bahwa kelompok Syiah khawatir kehilangan kekuatan mereka, dan kelompok Kurdi di bagian utara menghendaki otonomi luas, katanya.
Secara berbeda, Murphy mengatakan, survei terbaru menunjukkan bahwa 72 persen penduduk Irak tidak menghendaki negeri mereka hancur. “Apakah itu berarti saya mengatakan akan terjadi perang saudara? Tidak.”
Menurutnya, nasionalisme merupakan kekuatan yang kuat di Irak, dan untuk membangkitkan itu, “Anda jangan membubarkan angkatan bersenjata”, yang tidak loyal kepada Saddam Hussein.
Hal kedua yang bisa dilakukan adalah, “mengarahkan ke kemampuan lokal karena pendidikan dan kemampuan teknik baik di Irak”, menggantikan subsidi Halliburton dalam mengerjakan rekonstruksi.
Fakta geografis penting lainnya adalah minyak di bagian selatan dan utara negara itu dan antara bagian itu ada “penduduk yang merasa ‘disenfranchised’”.
Pada beberapa bulan lalu, kata Murphy, ada beberapa diskusi mengenai minyak dalam hubungan dengan pola etnis, “tapi saya berpendapat bahwa jika penduduk telah berpikir tentang tempat ini secara georafis sejak awal, maka itulah satu dari hal yang pertama harusnya dipikirkan.”
Murphy adalah mantan Presiden Asosiasi Geografer Amerika (AAG) dan kini menjabat Wakil Presiden Masyarakat Geografi Amerika (AGS). Dia menghabiskan masa kanak-kanaknya di Laramie. Ayahnya, Richard Murphy, juga adalah seorang profesor geografi.
John Allen, Ketua Departemen Geografi UW dalam perkenalannya menyebut bahwa Richard Murphy, ayah pembicara inilah yang membawa Murphy tertarik dalam bidang geografi ketika dia menjadi mahasiswa di UW.(bj) Powered by AkoComment! |