|
Buana Katulistiwa - Sebuah deklarasi dan rencana aksi perubahan iklim yang telah dirilis pada KTT G8, melakukan penundaan pembahasan mengenai perubahan iklim yang seharusnya dilakukan Kamis (7/7) menjadi hari Jum?at (8/7) menyusul serangan bom di London, Inggris pada hari Kamis itu.
Menurut AFP, para perunding telah bekerja dalam beberapa wilayah teks yang mengundang perdebatan, termasuk susunan kata yang sengat penting dari perubahan iklim.
Serangan bom yang menyerang sistem transportasi di London itu terjadi hanya pada saat para pemimpin dari Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Rusia dan Amerika Serikat baru saja memulai pembicaraan formal. Mereka tengah bergabung bersama pemimpin pemerintahan dari Brazil, China, India, Meksiko dan Afrika Selatan.
PM Inggris Tony Blair yang menjadi tuan rumah, meluncur ke London untuk melakukan briefing mengenai serangan itu, dan berjanji akan kembali ke Gleaneagles, tempat pelaksanan KTT G8, setelah hari Kamis.
KTT yang berlangsung selama tiga hari ini juga dalam rangka pemberian bantuan kepada Afrika.
Sebelumnya perunding Jerman, Bernd Pfaffenbach mengatakan kepada wartawan bahwa kelompok negara delapan tengah mencari kesepakatan aksi bersama untuk melawan pemanasan global, tapi tanpa target.
Dia mengatakan, mereka telah sepakat untuk mencoba mereduksi gas rumah kaca dengan teknologi pembersih dan efisiensi energi, tapi juga mereferensikan pada naskah mereka kepada Protokol Tokyo- dimana AS, satu-satunya negara G8 yang tidak menandatanganinya.
"Dokumen diterima dan Anda dapat yakin bahwa tidak akan ada perubahan apa-apa di sana," kata dia. "Protokol Tokyo harusnya menjadi penekanan, tapi dokumen yang ada tidak memberikan gambaran yang konkrit."
Kyoto komit negara berkembang yang menandatanganinya untuk mereduksi emisi gas rumah kaca mereka, umumnya karbon dioksida, yang memberikan konribusi terhadap pemanasan global. (bj) Powered by AkoComment! |