Depan arrow Topik arrow Politik arrow Negara G8 Harus Bertindak Atasi Perubahan Iklim Global
Negara G8 Harus Bertindak Atasi Perubahan Iklim Global Cetak E-mail
Rabu, 08 Juni 2005
Buana Katulistiwa ? Para ilmuwan dari negara-negara G8 (Group of Eight) mendesak para pemimpinnya untuk mengambil tindakan akan perubahan iklim global. Hal ini disampaikan Britain?s Royal Society bersama para ilmuwan dari negara-negara G8 lainnya kemarin (7/5).

Seperti dikutip dari AFP, bukti-bukti ilmiah efek rumah kaca terhadap perubahan iklim global yang dimiliki para ilmuwan mendorong munculnya desakan ini.

"Sangat jelas bahwa para pemimpin dunia, termasuk negara G8, tidak dapat menggunakan ketidakjelasan aspek perubahan iklim sebagai suatu pemakluman untuk tidak mengambil tindakan mencegah emisi gas rumah kaca" tandas Lord Robert May dari Oxford, Presiden Royal Society.

"Jangan membuat kesalahan, kita harus bertindak sekarang. Semakin lama kita tunda, makin sulit mencegah perubahan iklim nantinya," tambahnya.

Negara-negara industri G8 yang terdiri dari Perancis, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, Rusia, Italia dan Kanada ditengarai sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar. Amerika Serikat sedikitnya menyumbang 13 % emisi dunia sejak 1990 hingga 2002.

"Pemimpin kami dihadapkan pilihan jelas: bertindak sekarang mencegah perubahan iklim atau membiarkan generasi mendatang membayar harga mahal kesalahan kita," ujar Ketua pertemuan tahunan G8, yang akan bertempat di Gleneagles, Skotlandia, 6-8 Juli nanti.

Dilain pihak, George W. Bush, Presiden Amerika Serikat juga menyatakan keprihatinannya akan hal ini. Ia mengatakan perubahan iklim global merupakan masalah "serius jangka panjang". Ia menambahkan meski Amerika Serikat menarik diri untuk ikut dalam Protokol Kyoto, mereka telah menghabiskan jutaan dolar untuk riset tentang perubahan iklim global.

"Kami ingin tahu lebih banyak tentang itu (perubahan iklim global-Red). Akan lebih mudah dalam mengatasi suatu masalah bila anda memiliki banyak pengetahuan tentangnya," ujarnya.

Amerika Serikat mendapatkan banyak kritikan atas sikapnya untuk tidak menandatangani Protokol Kyoto. Malahan, media Inggris menilai perusahaan minyak international Exxon yang berada dibelakang sikap Amerika tersebut. (dp)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com