|
Buana Katulistiwa - Pada 26 Desember 2004
lalu, seorang siswi di Inggris, Tilly Smith, 10, merasakan sesuatu yang
tidak beres di pantai saat dia bersama keluarganya berada di pantai
Thailand sesaat sebelum gelombang tsunami menghancurkan tempat itu.
Siswi ini tiba-tiba mengingat kembali pelajaran geografi yang
disampaikan gurunya, Kearney, dua pekan sebelum bencana alam yang
melanda Asia Selatan itu terjadi.
“Air membesar dan terus datang,” kata Penny Smith,
ibu Tilly'. “Air berbuih mirip buih di atas bir. Laut bagai suatu
millpond, mulai membesar.”
Keluarga Smiths, yang berasal dari selatan Inggris, sedang merayakan
Natal di pantai Maikhao di Phuket, selatan Thailand ketika
bencana alam yang menghentak dunia itu terjadi.
“Pantai tampak surut, dan terus menyurut,”
sambung Penny Smith, 43, seperti dilansir National Geographic News,
belum lama ini. “Aku seperti dipaksa untuk melihat, tapi aku tidak tahu
apa yang sedang terjadi. Sampai kemudian Tilly mengatakan bahwa dia
pernah belajar di sekolah, tentang lempeng tektonik dan gempa bumi di
bawah laut. Dia (Tilly) semakin histeris, dan akhirnya menjerit
meminta kami keluar dari pantai.”
Ayah Tilly, Colin Smith, 46, mengatakan
wisatawan lainnya di pantai itu telah mendapat peringatan atas
pernyataan putrinya itu, ketika ia mengambil Tilly dan adiknya yang
berusia tujuh tahun kembali ke kolam renang hotel itu.
Penny Smith menambahkan, "Aku tidak mengetahui apa tsunami itu, tetapi
melihat putrimu begitu ketakutan membuatmu berpikir bahwa sesuatu yang
serius sedang terjadi."
Dia bahkan melihat kapal pesiar terangkat tegak
lurus di teluk. "Kemudian seolah-olah seluruh isi laut
keluar dari air itu. Aku kemudian menjerit, 'lari!'"
Keluarga ini mengambil tempat perlindungan di lantai ketiga hotel
mereka, menjauhkan diri dari pantai dari terjangan ombak tsunami
ketiga.
"Segalanya hanyut ke kolam renang-tempat tidur,
pohon dan banyak lagi. Sekalipun kamu bisa selamat dari air, kamu pasti
akan telah digantam oleh sesuatu," kata Penny Smith. Jika mereka tetap
tinggal di pantai, dia percara mereka pasti tidak akan selamat.
Setelah bencana ini lewat, Smith menyebut, mereka menemukan orang-orang di sekitar resor yang kehilangan seluruh keluarganya.
Kembali dengan aman
Si kecil Tilly Smith kini sudah kembali dengan aman di Danes Hill
School di Oxshott, Surrey, Inggris. Minggu lalu, dia menceritakan dalam
kelas geografi bagaimana laut yang pelan-pelan naik dan mulai berbuih,
bergelembung, dan membentuk pusaran air sebelum gelombang besar datang.
“Kejadian yang diceritakan Tilly sama persis
seperti kejadian yang sama seperti rekaman video yang pernah saya
tunjukkan pada saat tsunami menghantam Pulau Hawaii pada tahun 1946,”
kata Andrew F Kearney, guru geografi Tilly.
Topik-topik pelajaran yang dapat diberikan
untuk murid umur 10-11 tahun dapat meliputi lempeng tektonik, gempa
bumi dan gunung api. “Dan kita juga membicarakan tsunami sebab
gelombang ini dapat disebabkan oleh gempa bumi, gunung api atau tanah
longsor.
“Aku sendiri telah mengajar masalah ini
sedikitnya 11 tahun."
Kearney menggunakan audiovisual untuk menjelaskan masalah ini dengan
dibantu white boad interaktif untuk mendapatkan informasi geografis
secara on line (kelasnya sering mengunjungi website
nationalgeographic.com). Kelas ini juga sudah melihat website Amerika
mengenai peringatan dini tsunami.
“Para guru memiliki computer di meja dan dapat
mempertontonkan website berbeda ke layer whiteboard,” kata Kearney.
“Ini membantu sekali dalam mengajarkan geografi –ini sangat nyata
dibawa ke dalam kelas.”
Anak-anak juga diberikan tugas praktis. Salah satu tugas yang diberikan
misalnya adalah membangun model sebuah kejadian gempa bumi yang terbuat
dari kayu balsa. “Aku
menaruh model tadi di atas kotak dan mengguncangnya untuk melihat sisa
model terpanjang yang tetap utuh,” Kearney menambahkan.
Kearney sendiri telah menerima email dari para guru dari seluruh dunia,
yang memberikan dukungan sejak kisah Tilly pertama kali diberitakan di
Inggris.
"Orang-orang sering meremehkan pengajaran dan
para guru, dan mereka merasakan bahwa sangat penting untuk menunjukkan
bahwa kita bisa berbuat sesuatu hal yang berbeda,” tambahnya.
Terabaikan
Namun begitu, jika bagi murid di Danes pelajaran
georafi menjadi sangat popular, hal yang berbeda ternyata tengah
terjadi di seluruh Inggris. Menurut David Bell, Inspektur Kepala
Sekolah di Inggris, pada November sebelumnya, geografi telah menghadapi
kemunduran di tingkat sekolah dasar dan menengah. Pokok materi
pengajaran geografi telah termarginalisasi dan terabaikan.
Inspektur ini menemukan bahwa geografi menjadi
pelajaran pokok yang terburuk diajar di sekolah dasar.
Bel berkata pendidik harus melibatkan para murid lebih secara penuh,
dengan membuat menyadari keterkaitan mereka dengan apa yang sedang
diajarkan, dan yang lebih penting lagi adalah memastikan mereka
menikmati itu.
“Masalah kekurangan air, kelaparan, migrasi
penduduk, perdebatan mengenai minyak, globalisasi dan persoalan hutang
adalah isu utama dunia saat ini. Dan ini adalah geografi saat ini,”
kata Bel.
David Lambert, Pimpinan Eksekutif Asosiasi
Geografi di Sheffield, Inggris, sepakat dengan apa yang disampaikan
Bel. Menurut Lambert, “Geografi menaruh perhatian pada pembelajaran
dunia nyata. Tidak ada yang lebih melebarkan pemikiran, lebih memenuhi
secara fisik, secara emosional daripada perasaan tangan pertama dunia.
Dia menduga, masalah di sekolah berhubungan
dengan kesulitan para guru untuk mengintegrasikan subjek pelajaran ke
dalam kurikulum mingguan.
“Bersatu dengan dunia yang selalu berubah, dan dunia kelas luar,
perancanan geografi tampak seperti lebih menakutkan, terutama
sekali bagi mereka yang tanpa memiliki pelatihan atau inspirasi untuk
melakukannya," ia menambahkan.
Dan ini semua adalah tantangan berat para guru geografi di berbagai negara.(nationalgeografinews/bj) Powered by AkoComment! |