|
Buana Katulistiwa - Berbagai institusi yang terkait dengan geografi dibuat sangat sibuk di berbagai belahan dunia selama sepekan lalu. Hal itu karena Geography Awareness Week (GAW) pada 13-19 November, yang digelar bersamaan dengan peringatan Hari Geographic Information System (GIS Day) 2005.
Arti peringatan ini adalah keperdulian institusi yang terkait dengan geografi untuk membuka pintu kepada sekolah, kelompok bisnis dan publik umum untuk memperkenalkan geografi umumnya dan mendemonstrasikan aplikasi nyata teknologi GIS khususnya.
Selain berbagai kegiatan diskusi serius yang digelar di berbagai kampus terkemuka, kelompok diskusi museum, instansi pemerintahan, baik dalam topik geografi politik, migrasi internasional, perubahan iklim, teknologi geospasial, ancaman pandemik flu burung dan lainnya, di berbagai negara membuka laboratoriumnya untuk mengajarkan para pelajar mengenai geografi termasuk ilmu mengenai perubahan iklim, memperkenalkan GPS, permainan, workshop geografi, aktivitas berkait dengan peta-peta, foto-foto udara, dan citra satelit dan tur untuk melihat penggunaan GIS dalam penelitian dan produksi peta.
Di Inggris, misalnya, anak-anak oleh guru-gurunya diajak untuk melakukan perjalanan ke berbagai tempat menarik yang berkait dengan studi geografi. Seperti yang dilakukan anak-anak pelajar berusia enam tahun dari The Lady Elizabeth Preparatory School. Mereka diajak berkeliling ke Cap Prim Headland dan La Barraca Beach, untuk memberikan pemahaman tentang dampak erosi pantai. Aktivitas ini, menurut sumber www.roundtownnews.com, dibuat menarik sehingga menjadi pertunjukan yang menarik bagi pengunjung yang menikmati makan siang di restoran di pantai tersebut.
Di Virginia, AS, sebuah peringatan bertema “Migration: The Human Journey” menjadi perhatian publik khususnya anak-anak. Dihadirkan pula pembicara Al Barcover, seorang mantan editor Chicago Tribune dan perancang awal “Geography Challenge” 16 tahun lalu. Hal baru dari Al Barcover adalah kuis foto “After the Disaster”. Teka-teki pun diberikan. Sebuah bencana menyebabkan terjadinya migrasi sekitar 500.000 orang penduduk kota, perpindahan penduduk terbesar AS sejak Migrasi Terbesar dari Afrika-Amerika dari bagian selatan pada awal abad 20. Kota manakah itu?
Masih banyak lagi kegiatan yang tidak bisa disebut satu per satu, termasuk forum yang digelar di berbagai media, termasuk internet di berbagai belahan dunia. Lalu pertanyaannya adalah bagaimana dengan di Indonesia? Kemana perginya inisiatif institusi pemerintahan, perguruan tinggi, swasta maupun LSM termasuk institusi pendidikan dasar dan menengah yang bergerak di bidang geografi ini?(ss) Powered by AkoComment! |