|
Buana Katulistiwa - Sebuah pengujian baru kemungkinan dapat membantu sistem peringatan dini mutasi baru dan berbahaya virus flu burung, kata peneliti Amerika Serikat, Rabu (10/1).
Uji baru ini memungkinkan ilmuwan mengetahui kapan virus mulai berubah ke bentuk yang paling mudah menginveksi manusia, tulis laporan peneliti dalam Journal of Molecular Biology sebagaimana dikutip Reuters.
Pengujian, yang dinamakan “glycan array”, menunjukkan perubahan paling kecil virus H5N1 yang menyebabkan pandemik manusia, kata Ian Wilson dari Scripps Reseacrh Institute di La Jolla, California.
Virus H5N1 flu burung telah menewaskan lebih dari 70 orang sejak akhir 2003 lalu dan menyebar dari Asia ke Eropa. Terakhir virus ini telah berdampak ke berbagai negara, termasuk negara yang keenam, Turki, yang telah menewaskan sedikitnya dua orang.
Namun begitu, virus H5N1 masih menginveksi unggas dan belum menyeberang antarmanusia. Kalangan ahli khawatir terjadinya perubahan virus, dalam bentuk yang mudah berpindah dari manusia ke manusia yang menyebabkan pandemic, yaitu epidemik global, yang membunuh jutaan orang.
Tim Wilson menyebut test baru ini dapat mendeteksi kejadian ini.
Mereka menggunakan “glycan array” untuk mensurvei sampel protein yang membuat bentuk penyebaran virus manusia dan unggas, termasuk dari kejadian pandemik influenza pada 1918.
Protein kunci disebut “hemagglutinin” – unsure “H” dalam disain virus flu. Bagaimana mematikannya infeksi influenza individual tergantung pada sebaik apa seseorang memiliki sistem kekebalan yang dikenali “hemagglumitin”. (ss)
Powered by AkoComment! |