Depan arrow Topik arrow Kesehatan arrow Sistem Peramalan Iklim Bantu Prediksi Resiko Malaria di Afrika
Sistem Peramalan Iklim Bantu Prediksi Resiko Malaria di Afrika Cetak E-mail
Selasa, 07 Pebruari 2006
Botswana, AfrikaBuana Katulistiwa - Studi baru-baru ini yang dipublikasikan di Nature menunjukkan bahwa peramalan iklim dapat membantu memprediksi epidemi malaria hingga berbulan-bulan sebelumnya. Studi tersebut langsung dihubungkan dengan kebutuhan operasional dan sasaran kebijakan institusi iklim dan kesehatan daerah terkait.

Di sebuah daerah semi-arid (kering) Botswana, Program Pengendalian Malaria Nasional (National Malaria Control Programme) telah membangun sebuah sistem peringatan dini berdasarkan kerentanan populasi, curah hujan dan pengamatan kesehatan untuk memprediksi dan mendeteksi perubahan yang tidak biasa pada pola musiman penyakit.

Dengan menggunakan berbagai model iklim, para peneliti dapat memecahkan ketidakpastian dalam prediksinya dengan mengekspresikannya secara pasti sebagai peluang (probabilitas). Secara umum, temuan para peneliti menunjukkan bahwa peramalan iklim probabilistik ini dapat dikombinasikan dan digunakan secara efektif dalam peramalan malaria.

Dalam lansiran www.earth.columbia.edu belum lama ini, dinyatakan bahwa variabilitas iklim memiliki dampak yang penting terhadap malaria di daerah rentan epidemik di Afrika, di mana kondisi suhu dan curah hujan mengendalikan dinamika nyamuk maupun parasitnya. Selain itu, El Nino juga berpengaruh besar terhadap curah hujan di region tersebut, yang pada akhirnya mempengaruhi terjadinya tahun-tahun epidemik dan non epidemik. Menurut studi tersebut, resiko terjadinya epidemi di Botswana meningkat dramatis tak lama setelah terjadi musim hujan yang baik.

Sistem yang dibangun oleh Proyek Demeter ini membuat peramalan curah hujan musiman untuk sebagian besar Afrika bagian selatan menjadi lebih handal. Di samping itu sistem peramalan ini dapat membekali para pengelola jasa layanan kesehatan dengan peringatan mengenai perubahan dalam resiko epidemik lima bulan sebelum musim malaria puncak dan empat bulan lebih dini daripada prediksi yang dibuat berdasarkan curah hujan aktual. Mengikuti Botswana, beberapa negara di Afrika bagian selatan lainnya tengah membangun sistem peringatan dini serupa yang berguna untuk pencegahan epidemi dan kegiatan perencanaan respon.

Malaria merupakan pembunuh terbesar di dunia, merenggut lebih dari 1 juta nyawa dan menginfeksi sekitar 500 juta orang setiap tahunnya. 90 persen kasus malaria terjadi di Afrika. ?Pada daerah-daerah rentan epidemi, lebih banyak lagi penyebab kematiannya. Studi ini menunjukkan bahwa penggunaan informasi iklim yang bijaksana merupakan faktor penting dalam mengurangi dampak dari penyakit mematikan ini,? kata Dr. Charles Delacollette dari WHO Global Malaria Programme. (qb)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com