Buana Katulistiwa - Hong Kong menolak impor unggas dari Perancis, ditengah kekhawatiran baru flu burung yang merebak saat otoritas menemukan virus yang menyebabkan dua orang kritis di timur China.
Uni Eropa mengharapkan partner dagang tidak bersikap over reaktif atas peternakan Perancis, setelah Jepang juga melakukan penolakan impor unggas pada Jumat, hal yang sama dilakukan terhadap Belanda.
Hong Kong, dimana flu burung ditemukan pertama kali pada manusia tahun 1997, menewaskan enam orang.
Pada Minggu, kantor berita Xinhua menyebut Hong Kong telah menunda impor unggas Perancis hingga adanya perkembangan berikut.
Hong Kong merupakan pasar unggas kecil Perancis. Ekspor produsen terbesar Uni Eropa terbesar adalah ke Rusia dan Timur Tengah. Industri unggas Perancis bernilai 6 miliar euro (7 miliar dolar AS) per tahun.
Menurut Xinhua, sebagaimana dikutip Reuters, Senin (27/2), wanita petani dan seorang gadis berusia 9 tahun dari provinsi bertetangga di China kini dalam kondisi kritis. Otoritas di Provinsi Zhejiang menemukan 600 orang yang telah melakukan kontak dengan wanita ini, namun belum ditemukan adanya tanda-tanda terinveksi terhadap mereka.
Untuk Eropa, sejauh ini belum ditemukan kasus pada manusia, meskipun banyak orang telah dites virus. Pada Minggu, tes pada pria Rumania yang selama ini tersangka flu burung menunjukkan bahwa dia tidak mengidap virus flu burung, kata dokter.
Flu burung tercatat pada unggas liar di enam wilayah bagian selatan Rusia dan pada unggas domestik di empat wilayah ini, kata Menteri Pertanian Rusia, tanpa menjelaskan lebih rinci mengenai persebaran itu.
Swiss melaporkan kasus pertama H5 flu burung pada seekor burung, kata hasil tes bebek liar yang ditemukan di Danau Jenewa.
Perancis mengkonfirmasi 15 kasus baru H5N1 yang ditemukan pada angsa liar. Di Jerman, jumlah keseluruhan kasus H5N1 meningkaat hingga 124 kasus setelah lima ekor lebih burung liar yang dites menunjukkan positif.
Sebagai pemilik peternakan unggas, banyak peternak di Perancis merasa bersalah atas persebaran virus ini di Eropa. "Saat mendengar Eropa terinveksi, Anda merasa bersalah," kata peternak Daniel Clair. "Saya menjadi sulit tidur."
Para peternak Eropa telah mendapat tekanan setelah langkah Jepang menolak impor, dan Komisi Perdagangan Eropa Peter Mandelson pekan lalu telah meminta agar langkah semacam itu dilakukan dengan "proporsional".
"Bisa terjadi reaksi berlebihan dan ini bisa membuat kita semakin bahaya," katanya.
PBB telah merekomendasikan bahwa tidak ada unggas dari peternakan yang terinveksi memasuki pasar makanan, dan orang-orang tidak memakan bagian-bagian unggas, termasuk telur dari daerah dimana penyakit ini tertular.
Di bawah hukum Uni Eropa, daging unggas, telur, dan produk dari daerah di sekitar daerah terinveksi flu burung telah tertutup ke pasar.
Kekhawatiran penularan penyakit telah membuat tutupnya pertenakan unggas di berbagai belahan dunia. (ss)
Powered by AkoComment! |