|
Buana Katulistiwa ? Hari ini, 31 Mei, dicanangkan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) sebagai hari tanpa asap rokok sejak beberapa tahun lalu. Tidak hanya itu, berbagai usaha untuk mengurangi masalah kesehatan akibat rokok juga dilakukan.
Setidaknya 3,5 juta orang meninggal akibat rokok setiap tahunnya. Angka ini setara dengan 10.000 orang tiap harinya. Rokok diakui sebagai penyebab kematian paling luas di dunia setelah AIDS.
Data WHO mengungkapkan bahwa sepertiga dari orang dewasa di dunia memiliki kebiasaan merokok dan jumlah ini setara dengan 1.1 miliar orang. Diperkirakan, pada tahun 2025 jumlahnya akan meningkat menjadi 1.6 miliar
Pengamat geografi kesehatan menilai persebaran penyakit akibat rokok merupakan sesuatu yang sulit dikendalikan. Penyakit itu timbul bukan karena virus atau bakteri yang menyerang, namun akibat dari gaya hidup penderita yang merusak kesehatan. Meski begitu, ada juga orang yang terkena penyakit akibat gaya hidup orang disekitarnya.
Dewi Susilowati, pengamat geografi kesehatan dari Universitas Indonesia, mengatakan penyakit akibat gaya hidup cenderung menyebar berdasarkan tingkat kesejahteraan dan pendidikan masyarakat. "Kecenderungan penyakit di Indonesia akan berbeda dengan yang ada di Eropa," tambahnya.
Kebiasaan merokok merupakan gaya hidup yang telah dilakukan manusia sejak lama. Kebiasaan ini terus berkembang karena orang lain mencotoh gaya hidup tersebut. Berbeda dengan penyakit lain, penyakit ini menyebar karena calon penderita meniru gaya hidup tersebut.
Pada awalnya, merokok merupakan kebiasaan kaum bangsawan. Kini terjadi pergeseran pola tersebut, perokok di negara maju mulai menurun sedangkan jumlah perokok di negara-negara miskin dan berkembang cenderung meningkat.
Perbedaan jumlah perokok dapat dibedakan berdasarkan tingkat ekonomi, gender dan tingkat pendidikan. Perokok pria aktif di negara berkembang mencapai 48% dan 42% untuk negara maju. Namun, jumlah perokok aktif wanita di negara berkembang 7% dan 24% untuk negara maju. Dan dari keseluruhan jumlah tersebut, perokok aktif sebagian besar berada pada masyarakat berpendidikan rendah dan buta huruf.
Kampanye Anti Rokok
Salah satu cara efektif untuk mencegah penyakit yang disebabkan gaya hidup adalah menyadarkan orang yang melakukan kegiatan tersebut. Layaknya penyakit AIDS, dapat masalah rokok dikurangi dengan kampanye anti rokok.
Kampanye anti rokok pun menggunakan berbagai cara dan memperketat peraturan penggunaannya. Mulai dari pelarangan merokok di tempat umum, membatasi iklan rokok hingga mencegah para artis dan aktor untuk membintangi adegan merokok.
Sabtu kemarin (29/5), Institute Nasional untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan (RIVM) Belanda dan Jaringan Eropa untuk Laboratorium Tembakau dan Produk Tembakau (ENGL) mengadakan pertemuan pertama Jaringan Internasional Riset Tembakau untuk Peraturan (INTTARR).
Pertemuan ini dilakukan untuk menyediakan dasar ilmu dalam meningkatkan kesehatan melalui peraturan produk tembakau. WHO mendukung pertemuan ini karena dinilai mendukung peningkatan kesehatan masyarakat.
Begitu pula dengan Indonesia, pemerintah telah melakukan kebijakan untuk menaikan harga eceran rokok mulai 1 Juli 2005. Hal ini dilakukan untuk menekan jumlah perokok aktif di Indonesia. Meski demikian, banyak pihak menilai kebijakan ini lebih berpihak pada kepentingan ekonomi dibanding kesehatan. (dp) Powered by AkoComment! |