|
Buana Katulistiwa- Di tengah instabilitas politik yang masih terus berlangsung di Irak, untuk pertama kali, kasus kematian akibat virus flu burung pada manusia dikonfirmasikan menyerang negara ini. Kasus ini juga merupakan kasus kematian pertama akibat flu burung di Timur Tengah.
Seperti dilaporkan AP, Selasa (31/1), seorang gadis Kurdish, berusia 15 tahun, dinyatakan positif menginap virus H5N1. Penemuan ini setelah tim WHO sebelumnya melakukan pemeriksaan terhadap unggas domestik di bagian utara Irak.
"Kami dengan menyesal mengumumkan bahwa kasus pertama flu burung telah terjadi di Irak," kata Menteri Kesehatan Irak Abdel Mutalib Mohammed kepada wartawan.
Pejabat WHO mengkonfirmasikan temuan ini, meskipun masih belum jelas bagaimana gadis bernama Shangen Abdul Qader, yang meninggal 17 Januari 2005 di bagian utara Kurdish, Raniya itu, bisa terkontraksi penyakit ini.
Prospek penyebaran flu burung di Irak sangat diwaspadai karena negara ini terdapat banyak pejuang yang kemungkinan mendapatkan sumber pasokan yang kurang terjamin.
Anggota polisi Khalil Khudur menyebut dirinya memimpin pemusnahan 3.000 ekor unggas terutama ayam dan bebek di Sarkathan, sebuah desa yang dihuni 600 rumah, empat mil bagian utara Raniya. Penduduk dan kendaraan juga disemprot bahan kimia untuk mencegah bibit penyakit.
Namun banyak kekhawatiran bahwa langkah itu sudah sangat terlambat.
Pejabat kesehatan juga kini tengah menginvestigasi kematian paman gadis itu, yang tinggal di rumah yang sama, dan menunjukkan gejala yang mirip dengan flu burung. Sedikitnya dua orang lain telah masuk rumah sakit di Sulaimaniyah, 160 mil timur laut Baghdad, dengan gejala yang sama.
Presiden Jalal Talabani telah berupaya untuk mendorong bantuan untuk memproteksi penyebaran penyakit ini di Irak.
Kasus yang terjadi di Irak ini hanya berjarak 60 mil dari Turki. (ss)
Powered by AkoComment! |