Depan arrow Topik arrow Kesehatan arrow Hasil Penelitian: Orang yang Selalu Gembira Lebih Sehat
Hasil Penelitian: Orang yang Selalu Gembira Lebih Sehat Cetak E-mail
Kamis, 28 April 2005
Buana Katulistiwa - Lagu "Don't Worry, Be Happy" ternyata juga mengandung saran medis. Jika penelitian terdahulu menyebut ada kaitan antara depresi dengan peningkatan masalah-masalah kesehatan, kini ada penemuan baru bahwa manusia yang dilaporkan selalu gembira setiap hari ternyata lebih sehat.

Hasil penelitian ini disampaikan Andrew Steptoe dan teman-temannya di University College London, sebagaimana diberitakan oleh jurnal Science News, edisi 19 April 2005 lalu.

Andrew dan teman-temannya mempelajari emosional dan fisik lebih dari 200 orang London yang berusia setengah umur yang direkrut untuk studi psikobiologis Whitehall II pada pertengahan 1980.

Partisipan dihadapkan pada uji tekanan dengan bantuan alat monitor tekanan darah dan hati. Mereka diminta untuk merekam perasaan gembira mereka setiap hari. Tim peneliti menemukan bahwa orang-orang yang dilaporkan merasakan lebih gembira lebih sering juga memiliki rata-rata nilai tekanan hormon cortisol yang lebih rendah dibandingkan dengan orang-orang yang lebih sedikit memiliki saat-saat gembira, yang mana dikaitkan dengan hipertensi dan diabetes tipe II, daripada orang-orang yang dihitung lebih sedikit memiliki saat-saat gembira.

Bila dikaitkan tingkat kegembiraan dengan efek timbulnya penyakit, maka keadaan terburuk ialah bila seseorang terkena sakit jiwa. Sakit jiwa tidak melulu diartikan dengan gila, namun diurutkan berdasarkan tingkatannya.

Ada penelitian mengejutkan mengatakan bahwa 1.200 orang warga DKI Jakarta memeriksakan diri ke beberapa dokter spesialis kejiwaan dan rumah sakit jiwa (RSJ) dalam waktu 3 bulan. 40 persen di antaranya bisa sembuh total, 30 persen harus tetap berobat jalan, dan 30 persen lainnya harus menjalani perawatan inap.Hal ini diungkapkan oleh Ketua Ikatan Rumah Sakit Jiwa Indonesia (IRJI), dr. H. Aminullah, Sp.Kj pada Konfrensi Nasional Keperawatan Kesehatan Jiwa tahun lalu.

"Kalau dibandingkan rasio dunia dalam satu per mil, masyarakat Indonesia yang mengalami gangguan kejiwaan ringan sampai berat mencapai 18,5 persen," tambahnya.

Tidak hanya di Jakarta, di Jogjakarta pun penderita penyakit jiwa mengalami peningkatan. Di dua RSJ, yaitu RS Grhasia dan RS Sardjito, pasien meningkat dari 7000 orang pada tahun 2003, menjadi 10.610 orang di tahun 2004.

Belum ada penelitian lebih lanjut, apakah di kota lebih banyak memicu sakit jiwa dibanding desa. Meski begitu, tunggu apa lagi, be happy! (bj/dp)

Komentar
Tulisannya jangan berhenti sampai disini
Oleh taqy pada 2005-04-28 11:50:26
Coba terusin untuk menjelasakan, kalau kehidupan kota sebagai biang keladi penyakit kejiwaan: problem geografisnya yg mana? misal; jelaskan juga korelasi kota besar (jumlah penduduknya) dengan Jumlah orang yg terkena penyakit jiwa dari berbagai vase kejiwaan. Dan ketemu ng sebenarnya di kota mana di Indonesia yg sangat potensial, potensial dan yg banyak orang warasnya. Apakah berasosiasi denga n kegembiraan yg ada di kota tsb. Jadi /repot/susah ya masalah geografi.  
guuuuuud
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com