Buana Katulistiwa - Flu burung yang mematikan bagi manusia telah menyebar dari Asia ke pinggiran Eropa, kata Komisi Eropa, Kamis (13/10), memperingatkan negara-negara Eropa untuk bersiap-siap untuk sebuah kondisi pandemik potensial.Para ahli khawatir H5N1 akan bermutasi menjadi virus yang dengan mudah menyebar antarmanusia, sehingga kemungkinan akan membunuh jutaan orang.
Kepala Perlindungan Kesehatan dan Konsumen Uni Eropa Markos Kyprianou mengatakan, flu burung asing telah ditemukan di Turki, yang telah positif diidentifikasi seperti virus yang sama dengan H5N1 yang telah membunuh lebih dari 60 orang di Asia sejak 2003 dan memaksa pembunuhan jutaan unggas.
Pejabat Uni Eropa juga menyatakan bahwa flu burung telah ditemukan di Romania yang juga sama mematikan, meskipun masih diperlukan pengujian untuk mengkonfirm kebenaran ini.
"Virus yang ditemukan di Turki adalah virus patogen tinggi avian flu H5N1," katanya dalam sebuah konferensi pers. "Adalah benar para ilmuwan memberikan perhatian kepada kami dan mengingatkan kami bahwa ini akan menjadi sebuah pandemik."
Para ahli khawatir H5N1 akan bermutasi menjadi virus yang dengan mudah menyebar antarmanusia, sehingga kemungkinan akan membunuh jutaan orang.
Komisi Eropa telah melarang impor unggas hidup dan makanan ternak dari Turki, dimana telah ditemukan pada sebuah peternakan dekat laut Aegean dan Marmara, dan Romania.
Romania sendiri mengatakan, telah dideteksi flu burung di delta Danube, wilayah migrasi burung liar yang datang dari Rusia, Skandinavia, Polandia dan Jerman. Burung-burung itu umumnya berpindah ke wilayah yang lebih hangat di Afrika Utara termasuk delta Nil pada musim dingin.
Kepala Peternakan Romania Ion Agafitei kepada Reuters mengatakan, ilmuwan mendeteksi virus avian influenza dalam sampel darah yang diambil dari tiga itik yang mati pekan lalu. Sampel itu akan dikirimkan ke laboratorium di Inggris, yang akan memakan waktu dua hari untuk menentukan secara pasti jenis virus, kata ilmuwan Inggris, Ruth Manvell.
Ribuan unggas telah dimusnahkan di Turki dan Romania untuk mencegah penyebaran penyakit.
Flu burung mulai merayapi peternakan Thailand pada tahun 2003. Flu burung terakhir ini telah ditularkan kepada manusia hanya jika mereka memakan atau melakukan kontak dengan unggas yang terinfeksi. Tapi kalangan ilmuwan mengatakan, kekhawatiran H5N1 akan bermutasi antarmanusia.
Menurut Kyprianou, Komisi Eropa telah mempertimbangkan anggaran 1 miliar euro sebagai "dana solidaritas" untuk membantu pembayaran anti-virus jika terjadi kejadian pandemik. Dia juga menyebut, komisi ini telah berbicara dengan perusahaan farmasi untuk memperbesar kapasitas produksi obat ini.
Ahli avian influenza dan migrasi burung Uni Eropa mengadakan pertemuan darurat di Brussel pada hari Jum’at (14/10).
Organisasi Kesehatan Binatang Dunia yang berbasis di Paris mengatakan Kamis, bahwa 3.673 burung air telah mati di Iran, oleh sebab-sebab yang belum jelas. "Sejauh ini belum ditemukan agen patologis," katanya dalam Website, mengutip laporan dari kantor peternakan Iran. "Tidak ditemukan luka, hanya kelemahan lalu mati."
Di Iran, otoritas peternakan mengatakan tidak ada tanda-tanda flu burung ditemukan di sana. "Kami tidak tahu penyebabnya," kata Juru Bicara Behrouz Yasemi. "Kami menjamin wilayah kami."
Bulgaria telah menguji sekitar 30 unggas yang ditemukan mati di sekitar negaranya, tapi tidak ditemukan kasus penyakit, kata pejabat.
Otoritas kesehatan Yunani juga telah melakukan pengecekan kepada kapal cargo Portugis di dekat pelabuhan Piraeus setelah penemuan "suspect" kematian dan kehidupan burung yang bermigrasi. (bj) Powered by AkoComment! |