Depan arrow Artikel arrow Berita Dunia arrow Burung Liar: Vektor atau Korban Flu Burung?
Burung Liar: Vektor atau Korban Flu Burung? Cetak E-mail
Kamis, 26 Januari 2006
Flu BurungBuana Katulistiwa- Apakah burung-burung liar yang diam-diam terbang dari udara bercuaca dingin ke daratan yang lebih hangat membawa virus mematikan flu burung (avian flu) di seluruh dunia? Ataukah sebaliknya mereka hanya korban?

Pertanyaan-pertanyaan ini diungkapkan Reuters, Selasa (24/1), menyusul merebaknya perdebatan mengenai bagaimana virus H5N1 menyebar, khususnya setelah virus itu kini juga membunuh manusia di Turki.

Banyak ilmuwan percaya migrasi unggas liar kemungkinan pembawa virus dari Asia dan Siberia ke Rumania dan Turki. Dan meskipun banyak pula argumentasi yang menyebut hal itu tidak cukup memadai, namun teori tersebut tetap bertahan hingga kini.

“Para ilmuwan meningkat keyakinannya bahwa unggas air yang bermigrasi kini membawa virus H5N1 dalam bentuk patogen tinggi, kadang dalam jarak jauh, dan memperkenalkan virus kepada makanan unggas di area di sepanjang rute migrasi mereka,” kata pejabat WHO, pekan lalu.

Dia menyebut bahwa ilmuwan menemukan bahwa virus dari berasal dari negara-negara yang paling baru terinveksi, sepanjang rute migrasi, yang identik dengan virus yang ditemukan menewaskan burung migrasi pada Danau Qinghai, China.

Virus dari kasus pertama pada manusia di Turki juga identik dengan yang di Danau Qinghai, katanya.

Di Rumania, persebaran pertama kali dideteksi di dan sekitar wilayah Delta Danube, daerah rawa-rawa terbesar Eropa yang juga menjadi rute migrasi utama burung-burung liar.

“Kita tahu bahwa virus avian influenza dibawa burung migran di seluruh dunia. Tapi tidak seluruhnya mereka patogen tinggi atau H5N1,” kata Juan Lubroth, pejabat senior penyakit infeksi FAO kepada Reuters.

“Kukira burung liar mungkin memperkenalkan virus namun ini sangat terkait dengan sistem pemasaran yang dibuat manusia (perdagangan pakan ternak) yang kemudian menyebarkan penyakit ini. Juga mungkin pakan ternak dapat mentransmisikan virus ke burung liar ketika mereka berbagi dalam ekosistem yang sama,” kata Lubroth.

Lebih banyak pertanyaan daripada jawaban

Virus H5N1 telah membunuh sedikitnya 80 orang sejak 2003, terutama di Asia. Korban diketahui tertular virus melalui kontak langsung dengan unggas yang sakit, namun ada kekhawatiran bahwa virus akan bermutasi manusia ke manusia, sehingga membuat jawaban atas pertanyaan bagaimana dia menyebar ke berbagai wilayah dirasakan begitu penting.

FAO menyebut bulan ini bahwa virus dapat menyebar ke Afrika dan Eropa sepanjang migrasi musim semi di bagian utara.

“Virus avian influenza dapat mencapai Laut Mati, Kaukasus dan wilayah Timur Dekat sepanjang jalur perdagangan… dan ini dapat menjadi penyebaran burung migrasi dari Afrika pada musim semi,” katanya.

Virus H5N1 belum ditemukan di Afrika. Pengujian pada kematian burung liar dari Malawi dan Etiopia ternyata negatif dan ratusan test burung liar di Afrika Selatan juga tidak ditemukan hal yang sama.

Teori pertumbuhan populasi migrasi burung migrasi telah mencemaskan kelompok lingkungan vokal yang khawatir bahwa klaim yang belum bisa dipertanggung jawabkan dapat memicu diskriminasi.

“Pola persebaran antara Asia dan Eropa timur tidak mengikuti pola yang diketahui soal burung migran, yang tampaknya terbang dengan rute utara-selatan. Mereka bukan timur-barat,” kata Dr Richard Thomas dari BirdLife International.

Andre Farrar, ornitologis Britain's Royal Society for the Protection of Birds (RSPB), menyebut jika burung migrasi menyebarkan H5N1, hal itu pasti sudah menyebar ke tempat lain. “Kembali dan mulai lagi dari Asia Tenggara. Jika migrasi merupakan rute utama, Anda berharap akan menemukannya di Australasia, tapi hal itu tidak terjadi,” katanya.

“Ada risiko teori yang jelas bahwa burung migran dapat membawa flu burung. Ada publikasi yang menunjukkan bahwa bebek dapat bertahan dari infeksi H5N1 dan kita akan bodoh untuk tidak mau menerima ini,” katanya.

Menurut dia fokus burung migrasi, lebih baik pada upaya penguatan kebijakan yang bermanfaat misalnya pendidikan publik, biosecurity dan pengawasan pergerakan pakan ternak.

Pemerhati lingkungan menyebut puluhan burung-burung migran di negara-negara yang dideteksi terinfeksi, telah diperiksa sepanjang decade terakhir, tapi tidak satupun yang mengidap virus.

Burung liar yang ditemukan mengandung virus H5, seperti pada angsa yang ditemukan di Kroasia pada bulan Oktber, dan sudah mati – diduga adalah korban, bukan vektor. (ss)

Komentar
flu burung
Oleh Alamat e-mail dilindungi dari bot spam, anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihat alamat ini pada 2006-02-07 02:27:02
kepada bapak 2x dan ibu2x jangan takut sama ayam karena virus dapat mati di suhu yang tinggi jangan takut untuk makan ayam ok kasihan tukang ayam ngga laku :grin
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com