|
Buana Katulistiwa - Satu dekakde yang lalu, Kota Bogota di Kolombia mempunyai reputasi yang buruk. Tindak kejahatan diluar kendali. Ketimbang membeli mobil patroli baru dan senjata baru, kepolisian Bogota melakukan pembuatan peta kejahatan. Polisi mulai menumpuk jutaan buletin miliknya yang kemudian di buat kedalam bentuk digital dalam bentuk peta kota atau dengan kata lain, mereka memetakan data mereka.
Data yang mereka petakan adalah berupa titik. yang ditampilkan bersama dengan peta jalan sehingga data mengenai kejahatan mudah dilihat pada peta kota dan polisi mampu untuk menentukan hot spot di daerah perkotaan serta mengoptimalkan patrolinya. Tingkat pembunuhan telah menurun selama lima tahun terakhir. "Peta kejahatan telah membuat kami lebih cepat dan efisien", kata Luiz Alberto Gomez, Kepala Polisi Metro Bogota, yang dikutip dari newsweek.com.
Kepolisian di beberapa negara, melakukan pengembangan teknologi yang berkaitan dengan perlawanan terhadap tindakan kejahatan, dan semakin ditingkatkan. Dengan rating kejahatan yang tinggi di Kolombia, Brazil, India, Afrika Selatan. Negara-negara tersebut berupaya merekrut personil-personil yang berkecimpung dalam dunia teknologi. "Tanpa komputerisasi mengenai analisis kejahatan, kegiatan polisi hanya menebak", kata Alexandre Peres, yang merupakan seorang strategi keamanan pemerintah di Pernambuco, Brazil.
Trend dimulai pada awal tahun 1990, ketika polisi kota New York mulai menggunakan CompStat, komputer yang didalamnya tersedia perangkat pemetaan dan data-data yang berkaitan dengan tindak kejahatan. Dalam dekade berikutnya, tindak kejahatan berkurang 70%, dan sekarang kota berada di peringkat 222 di AS dalam hal tingkat kejahatan. Trend ini diikuti oleh para walikota di AS dan di Eropa.
Kolombia mulai mempersenjatai kepolisiannya dengan peta satelit yang beranotasikan data kejahatan untuk menunjukan spot dari lingkungan yang rawan. Dalam setengah dekade, tingkat pembunuhan di Kolombia menurun, di Bogota (menurun 30%), Medellin (menurun 35%) dan Cali (menurun 25%).
Sao Paolo, Brazil meningkatkan tiga kali lipat anggarannya untuk teknologi keamanan dan hasilnya terlihat mulai tahun 1999 dimana tingkat kejahatan menurun, ketika Infocrim sistem pengamatan kejahatan telah di pasang. India dan Afrika Selatan telah memulai program yang sama.
Teknologi yang murah menjadi alasan utama peta kejahatan booming. Mulai dari perangkat teknologi yang seharga 15.000 USD, yaitu perangkat lunak "kernel density", yang bisa melacak transaksi finansial, sampai perangkat pemetaan seharga 1.600 USD dan bahkan sampai teknologi Google Earth.
Para peneliti tindak kejahatan meletakkan titik virtual yang di tampilkan di peta jalan, membuat tanda disetiap zona, yang berisikan data pokok, mengumpulkan sedikit demi sedikit data dari arsip kriminal, data demografi, bahkan data mengenai indikator sosial seperti kemiskinan dan daerah rawan.
Di Sao Paolo, dari catatan harian para polisi yang berisikan tentang tindak kejahatan, kemudian isi dari catatan tersebut di cross-check dengan daerah yang rawan akan lalu lintas obat terlarang, para berandal berkeliaran atau bangunan-bangunan kumuh dari kayu, dan memasukan semua data tersebut ke dalam peta jalan untuk orientasi patroli.
Kegiatan pembuatan peta kejahatan, adalah kerjasama dari para geografer dan peneliti dari kepolisian, mengijinkan penyelenggaraan hukum untuk mengetahui bagaimana kejahatan timbul, bertransformasi, dan bermigrasi. "Pemetaan merubah semuanya", kata Tulio Kahn seorang koordinator perencanaan dari Departemen Keamanan Publik Sao Paolo. Dia juga menambahkan bahwa, "Polisi mulai melihat pola yang menjelaskan hot spot perkotaan".
Tiga tahun lalu, geografer Afrika Selatan dan ilmuwan komputer menolong pihak berwajib unutk menangkap dan menghukum tiga kelompok pembunuh dan penculik di Durban dan Cape Town dengan melacak sinyal telepon seluler dan menandai pergerakan mereka dalam peta jalan digital. Sejak itu kesatuan polisi Afrika Selatan (SAPS), menggunakan peta kejahatan untuk melawan perampok bersenjata dan pelaku kejahatan serial, sementara itu Scorpion, kesatuan elit atau FBI-nya Afrika Selatan berkonsentrasi untuk menangkap pelaku kejahatan yang prioritasnya lebih tinggi.
"Ketika anda menempatkan nomor pada sebuah peta, hal pertama yang anda lihat yaitu, bahwa konsentrasi dari tindak kejahatan adalah nyata", Claudio Beato peneliti politik dari Universitas Federal Minas Gerais.
Ada sebuah peristiwa pencurian toko perhiasan Jitesh Shah di Barat Mumbai, India. Pencurian ini dilaporkan melalui nomor telepon 100, saluran pertolongan darurat di India. Operator penerima telepon mencatat laporan tersebut dan melanjutkan laporan tersebut ke operator radio, yang kemudian operator radio menghubungi mobil patroli, dan yang terjadi adalah pencuri toko tersebut telah lama pergi. Dari kegagalan seperti itu kepolisian Mumbai berinvestasi 1,35 juta USD. Bulan Januari lalu, peta kejahatan ini mulai dioperasikan, dimana ruang kontrol akan mampu secara cepat mengirimkan posisi pasti dari lokasi kejahatan sedang berlangsung.
Memang para bandit tidak akan menyerah pada teknologi yang dipandang hanya sebagai klak-klik pada mouse dan seiring dengan tindak kejahatan semakin penuh dengan trik dan intrik, akan lebih baik jika polisi paham, bahwa tidak cukup untuk memerangi tindak kejahatan dengan cara lama.(bm)
Powered by AkoComment! |