Depan arrow Info GIS arrow Catatan Geography Awareness Week (3): Geografi dan Terorisme
Catatan Geography Awareness Week (3): Geografi dan Terorisme Cetak E-mail
Rabu, 23 November 2005
Buana Katulistiwa - Pertanyaan yang selalu muncul atas perkembangan teknologi internet yang memudahkan didapatnya sumber citra satelit hingga peta lokasi yang lebih detail adalah tidakkah teroris akan dapat menggunakannya untuk menyerang suatu negara atau sebuah tempat dengan sangat mudah dan murah?

Pertanyaan ini sebenarnya terlalu berlebihan juga karena ada tendensi untuk mempersalahkan citra atau peta itu sendiri daripada pihak-pihak mana yang kemungkinan terbuka menggunakannya. Seperti pepatah, pisau di tangan maling yang akan dipakai merampok, tapi pisau di tangan koki jelas akan bermanfaat.

Jadi, masalahnya adalah bagaimana memanfaatkan teknologi terkait citra dan peta itu sendiri untuk mencegah aksi teroris bukan malah mempersoalkan sesuatu yang berupa ketakutan-ketakutan yang justru membesar-besarkan teroris?

Profesor Geography George Hepner, seperti dikutip The Daily Utah Chronicle, 22 November ini, mengatakan bahwa terorisme sebenarnya bukan trend baru di dunia, sebagaimana yang dipikirkan oleh kebanyakan orang Amerika. “Kebanyakan orang Amerika berpikir terorisme itu hal baru. Bukan. Dari perspektif global, kita punya sejarah terorisme yang cukup lama,” kata Hepner.

“Apa yang berubah adalah bagaimana penggunaan teknologi yang digunakan untuk melawan terorisme,” katanya.

Hepner sendiri akan memberikan ceramah pada kelas khusus untuk membahas masalah ini dengan topik “Geography of Terrorism and Homeland Security”. Kelas awal akan membahas asal dan kasus terorisme, kemudian mengenai pola global dan teknologi yang berhubungan dengannya.

Terorisme biasanya muncul dari daerah-daerah yang diketahui memiliki pemerintahan yang tidak stabil dan dukungan masyarakat lokal. Hepner sendiri berencana untuk melakukan studi wilayah mana saja di dunia yang tampak menjadi tempat yang bisa subur terorisme.

Kelas akan focus pada GIS dan teknologi geospasial seperti penginderaan jauh, dan bagaimana teknologi ini dapat dimainkan sebagai bagian dari perang terorisme. “Kita akan melihat bagaimana geografi dapat digunakan untuk melawan terorisme dan membantu aparat keamanan,” katanya.

Adam Sobek, Direktur Laboratorium Digital Departemen Geografi mengatakan, teknologi baru merupakan tantangan untuk melawaan terorisme. “Kini kita memiliki kapabilitas untuk melacak pola terorisme. Pada waktu lalu, kita tidak mampu melakukannya, tapi kini sudah dapat,” kata Sobek seraya menyebut bahwa kelas ini juga menjelaskan cara teroris kemungkinan menggunakan teknologi untuk merencanakan penyerangan.

Hepner berharap adanya pemahaman mengenai terorisme akan membantu penguatan memerangi teroris. Namun begitu, Hepner mengatakan bahwa saat ini pendekatan AS untuk melawan terorisme tidak efektif. “Sangat diperlukan pendekatan yang menyeluruh. Kekuatan militer hanya satu bagian dari solusi ini,” katanya.

Sobek menambahkan, ladang karir yang berkaitan dengan kelas ini sedang bertumbuh, dan ada banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk menemukan pekerjaan geografi untuk melawan terorisme, misalnya untuk organisasi seperti CIA. (ss)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com