|
Buana Katulistiwa - Singapura akan mempersiapkan studi jangka panjang untuk mengantisipasi dampak gempa bumi pada negara-kota, pusat bisnis Asia Tenggara, yang memiliki fasilitas kunci yang dibangun di atas tanah reklamasi, kata ilmuwan terkenal AS.
James Rice, ahli gempa bumi Universitas Harvard, AS, mengatkan studi akan memfokuskan diri pada bagaimana struktur bangunan pada tanah reklamasi dapat dipengaruhi oleh gempa besar.
Bagian berbesar dari daratan Singapura merupakan hasil reklamasi dari lautan.
“Anda memiliki pelabuhan kargo kontainer yang massif, Anda punya fasilitas pelayanan bahan bakar, Anda punya generator energi – yang kesemuanya berada di atas tanah reklamasi yang marginal, yang sangat mudah dipengaruhi guncangan gempa,” kata Rice kepada wartawan di Singapura, sebagaimana dikutip AFP, Kamis (19/1).
Rice menyebut “Hal yang sangat mendesak untuk memahami Singapura adalah apa kemungkinan respon struktur pada tanah reklamasi”, selama sebuah gempa terjadi dan bagaimana memprediksi tingkat level guncangan untuk dapat memandu para perencana kota.
“Saat saya mengelilingi Singapura, saya tidak melihat tempat untuk membangun.. jadi asumsinya di masa depan apa yang harus dilakukan adalah melakukan reklamasi.”
Karena pengaruh lokasi geografisnya, sepertinya Singapura tidak akan terkena serangan tsunami sebesar gelombang yang pernah melanda pantai-pantai di Samudera Hindia pada 16 Desember 2004, kata Rice. Namun, dia mengatakan bahwa Singapura akan ikut merasakan getaran dan gelombang dari setiap gempa di pantai barat Sumatera, yang diketahui mengalami gempa kuat setiap 200 hingga 300 tahun.
Gempa 9,0 SR yang menguncang pantai barat Sumatera diketahui pernah terasa sangat kuat pada tahun 1833.
Rice sendiri berada di Singapura untuk memberikan kuliah umum pada National University of Singapore (NUS) mengenai studi yang dia lakukan pada Patahan Besar Sumatera, yang memanjang sepanjang pulau Indonesia.
Rice juga menyebut studi mengenai hal ini sangat penting karena situasi Singapura “analog” dengan Mexico City, yang dihancurkan gempa pada tahun 1985, karena kota itu dibangun di atas sebuah danau tua. “Anda memiliki wilayah panati ekstensif, sedimen halus, tanah reklamasi dan kini Anda tengah ingin memperluasnya lagi,” kata Rice. (ss)
Powered by AkoComment! |