Depan arrow Artikel arrow Berita Dunia arrow Siklus Banjir 400 tahunan Melanda Inggris?
Siklus Banjir 400 tahunan Melanda Inggris? Cetak E-mail
Kamis, 27 Januari 2005
Buana Katulistiwa - Badai yang menyerang beberapa bagian daerah Inggris akhir-akhir ini merupakan yang terbesar sejak badai yang terjadi pada tahun 1822. Bencana tersebut meninggalkan trauma yang mendalam bagi mereka yang selamat. Pertanyaan yang kini muncul adalah, jika bencana seperti itu dapat terulang lagi maka kapankah terjadi lagi?
    Bencana yang tak kalah luar biasanya juga terjadi di Inggris pada awal tahun 2005 ini. Angin kencang yang berasal dari Atlantik telah memporak-porandakan wilayah Utara Inggris antara tanggal 9 dan 13 Januari yang lalu. Hujan yang terjadi pada tanggal 9 Januari karena tiupan angin kencang tersebut, mengakibatkan meluapnya Sungai Eden. Banyak gedung, termasuk salah satunya Civic Centre tenggelam, dan dua orang terperangkap di dalamnya.

    Badai dahsyat juga menelan korban di daerah lain di Inggris,khususnya di pulau Hebridean, dimana satu keluarga yang terdiri dari lima orang tewas mengenaskan tersapu ke laut oleh badai berkekuatan 120 mil per jam ketika sedang mengandarai mobil. Korban berjatuhan juga terjadi di Bradford dan Moray, ketika sebuah kapal ferry kandas terkena angin berkekuatan 100 mil per jam di Loch Rain. Total tiga orang di Inggris tersapu oleh angin kencang berkekuatan 140 mil per jam.

    Hal ini terjadi setelah badai terbesar sejak 1822 ini merusak Boscastle pada September 2004, hingga memporak-porandakan desa Cornish, tulis http://www.geographyinthenews.rgs.org, pekan ini.

    Siklus 200 tahunan?

    Bencana yang dialami oleh beberapa bagian daerah di Inggris tersebut adalah yang terbesar dalam 200 tahun terakhir. Jadi, apakah ini artinya dapat terulang lagi pada waktu 200 tahun mendatang? Atau malah terjadi lebih cepat?

    Peringatan datangnya badai di masa mendatang dapat diperkirakan dengan menganalisa catatan tentang sejarah badai tersebut. Dengan menggunakan data terdahulu, para ahli dapat mempelajari periode terjadi kembalinya badai. Walau begitu, perkiraan yang dilakukan oleh para ahli tersebut tak begitu saja dapat dipercaya karena pengaruh perubahan iklim global harus diperhitungkan.

    Banyak ahli meteorologi berpendapat bahwa kejadian ekstrim tersebut pada akhir-akhir ini naik frekuensinya. Misalnya, banjir yang melanda bagian selatan Inggris pada tahun 2000 juga digambarkan sebagai kejadian 200 tahunan. Banjir di Boscastle yang terjadi musim panas lalu diperhitungkan sebagai kejadian yang terjadi lebih jarang, yaitu diprediksikan terjadi setiap 400 tahun sekali. Apakah bencana tersebut terjadi lebih sering dari yang diperkirakan?Apakah hal tersebut dapat diartikan bahwa pendekatan yang dilakukan atas dasar data iklim yang lampau tidak dapat lagui dipercaya? Jika iklim di bumi berubah, seperti yang dikatakan oleh para ahli, mungkin hal itulah yang menjadi penyebabnya.

    Sistem Pertahanan

    Semua hal yang telah dijelaskan di atas dapat diartikan bahwa banyak daerah di Inggris tersebut pada suatu hari nanti akan mencapai titik jenuh dan akhirnya 'tidak tahan' lagi menampung banjir yang ada. Pembatas pantai dan tanggul sungai yang didesain dapat menahan badai yang terjadi seratus tahunan, pada masa mendatang mungkin hanya dapat berfungsi menahan badai yang terjadi lima puluh tahunan. Artinya badai yang sebelumnya diprediksi terjadi seratus tahun sekali, dapat terjadi dua kali dalam kurun waktu yang sama.

    Seperti di Sungai Thames, penghalang yang terdapat di sungai tersebut didesain untuk melindungi kota London dari gempuran badai yang berasal dari Laut Utara. Penghalang tersebut dibuat untuk menahan 1:1000 badai (badai yang terjadi dalam kurun waktu rata-rata seribu tahun sekali). Perkiraan frekuensi terjadinya badai tersebut berdasarkan informasi yang didapatkan dari kejadian-kejadian badai sebelumnya.

    Para pemerhati lingkungan tetap berkeyakinan bahwa frekuensi kota London terkena banjir bandang hanya setiap seribu tahun sekali. Bagaimanapun, jika iklim global berubah, maka di masa depan penghalang banjir tersebut dapat saja tidak lama lagi berfungsi seperti yang direncanakan sebelumnya. Hal ini tentu akan sangat merisaukan penduduk kota London. Jika banjir terjadi, Westminster dapat digenangi air sedalam dua meter, 68 bangunan bawah tanah (underground) dan stasiun kereta Docklands juga akan terendam. Begitu juga dengan nasib 16 rumah sakit dan 400 sekolah.

    Sejalan dengan semakin besarnya resiko banjir yang terjadi di London, penduduk yang bermigrasi dan pembangunan permukiman baru di kota tersebut juga senakin bertambah. Sejumlah 200.000 rumah baru yang berlokasi di area gerbang Sungai Thames telah direncanakan pembangunannya oleh pemerintah sampai tahun 2016. Isu mengenai banjir ini mendapat perhatian besar bagi pembuat undang-undang. Keadaan akan sangat mengkhawatirkan jika iklim berubah dan air laut naik, penghalang baru perlu dibuat, dan biaya yang dibutuhkan mencapai 20 miliar poundsterling.

    Tetapi, bagaimanapun juga para peneliti berpendapat mereka harus mempelajari dahulu paling tidak sekitar limapuluh bencana banjir di Inggris untuk 25 tahun mendatang sebelum mereka menetapkan prediksi yang akurat mengenai resiko banjir di masa mendatang.

    Kapan Boscastle terkena banjir lagi?

    Para pemerhati lingkungan telai usai mengamati data dan fakta yang ada mengenai Boscastle, desa Cornish yang mengalami kerusakan oleh curah hujan sebesar 203 mm pada bulan Agustus 2004. Mereka juga menyarankan agar penduduk sebaiknya membangun kembali rumahnya yang telah hancur menurut saran dan hasil studi dari para ahli hidrologi, yang menyebutkan bahwa banjir dengan kekuatan yang sama terjadi tiap 400 tahun sekali.

    Pemerhati lingkungan menyatakan bahwa banjir di Boscastle merupakan bencana banjir terbesar sepanjang sejarah Inggris yang mencapai pelosok walaupun tidak terlalu parah. Aliran sungai mencapai puncaknya pada debit air 140 m3/detik. Pada pukul 17.00-18.00, volume air yang mengalir melalui Boscastle pada hari itu mencapai 2 juta ton, walaupun frekuensi terjadinya banjir besar ini hanya sekali dalam 400 tahun.

    Hal ini dapat dijelaskan dalam perbandingan sebagai berikut : debit air 77 m3/detik mempunyai kemungkinan terjadi 400 tahun sekali, dan debit air 64 m3/detik mempunyai kemungkinan terjadi 75 tahun sekali. (da)
Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com