Depan arrow Topik arrow Fisik arrow Perubahan Iklim Dibalik Penyakit yang Membinasakan Kodok Amerika Latin
Perubahan Iklim Dibalik Penyakit yang Membinasakan Kodok Amerika Latin Cetak E-mail
Rabu, 18 Januari 2006
Buana Katulistiwa- Ilmuwan dari Universitas Alberta, bagian dari tim riset internasional, untuk pertama kalinya menemukan bahwa pemanasan global ada dibalik merebaknya epidemi penyakit yang memusnahkan populasi kodok dan memaksa jenis lainnya ke pedalaman.

“Ada hubungan yang jelas antara pemanasan global dan penyakit ini,” kata Profesor Asturo Sanchez-Azofeila, dari Departemen Ilmu Kebumian dan Atmosfir, Universitas Alberta, yang juga penulis pembantu sebuah paper riset pada edisi terbaru jurnal Nature, sebagaimana dikutip website Universitas Alberta, 17 Januari.

Sanchez-Azofeifa bekerja pada tim riset internasional yang dipimpin Dr Alan Pounds dari Costa Rica's Monteverde Cloud Forest Preserve and Tropical Science Centre. Dengan mempertimbangkan penggundulan hutan, para ilmuwanini menginvestigasi bagaimana kodok Monteverde harlequin musnah 17 tahun lalu dari pegunungan Costa Rica.

Para peneliti mengatakan, sekitar 67 persen dari 110 species kodok harlequin, yang hanya ada di daerah tropik Amerika, mengalami nasib yang sama berkait dengan jamur fatogen yang disebut Batrachochytrium dendrobatidis.

Para peneliti menemukan bahwa antara tahun 1975 dan 2000, temperatur udara tropis meningkat 0,18 derajat per dekade, lipat tiga rata-rata pemanasan abad 20. Paper menyebbutkan pemanasan ini telah mereduksi frekuensi kabut pada Monteverde oleh peningkatan formasi awan yang kemungkinan menyebabkan ketahanan, pertumbuhan dan reproduksi jamur.

Setelah menganalisis hubungan dan waktu antara kepunahan species dan perubahan temparatus udara dan permukaan, ilmuwan ini menyimpulkan “dengan sangat meyakinkan”, bahwa pemanasan skala besar merupakan faktor kunci lenyapnya berbagai populasi amfibi saat ini di lingkungan hutan.

“Ketika kita bicara perubahan iklim, ada banyak perhatian pada negara-negara industri, namun manusia melupakan ekosistem lain yang sangat sensitif terhadap perubahan iklim,” kata Sanchez-Azofiefa.(ss)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com