Depan arrow Topik arrow Fisik arrow Mungkinkah Tsunami Berikutnya Menyerang Sekitar Lokasi yang Sama?
Mungkinkah Tsunami Berikutnya Menyerang Sekitar Lokasi yang Sama? Cetak E-mail
Rabu, 21 Desember 2005
Buana Katulistiwa - Kilat menyambar dua kali di tempat yang sama. Itulah peringatan ahli seismologi begitu mereka menilai risiko tsunami Samudera Hindia lainnya.Itu mungkin pernyataan yang terlalu dilebih-lebihkan. Tapi bisakah hal itu terjadi?

Gempa yang terjadi 26 Desember 2004 di barat laut Sumatera berkekuatan 9,3 skala Richter, merupakan gempa terkuat kedua yang tercatat, setelah gempa berkekuatan 9,5 skala Richter di Chili tahun 1960.

Gempa ini mengangkat lantai samudera sepanjang 1.200 kilometer, melepaskan gelombang naik hingga 15 meter dan membesar hingga ke pantai utara Samudera Hindia. Lebih dari 220.000 orang meninggal dunia di berbagai negara sepanjag pantai Samudera Hindia, setidaknya dua juta kehilangan tempat tinggal dan kehancuran ekonomi mencapai miliaran dolar AS.

Lepasan energi tsunami ini juga terasa hingga Peru dan Meksiko, 20.000 kilometer dari episentrum. Bumi membunyikan suara mirip bel: getaran terasa hingga beberapa pekan kemudian.

Dapatkah ini terjadi lagi?

Ahli gempa bumi biasaya enggan untuk membuat prediksi, tapi atas pertanyaan ini mereka mencoba melepaskan diri dari pemikiran tradisionil mereka. Mereka mengatakan bahwa bukan hanya tsunami yang akan terjadi lagi, tapi ini juga tampak akan menyerang tempat yang sama dan kapan saja.

“Semua lampu peringatan sedang menyala merah,” kata Paul Tapponnier, peneliti pada Paris Institute for Planetary Physics (IPGP) seperti dikutip kantor berita AFP, Rabu (21/12).

Gempa mungkin sepertinya acak namun terdapat gambaran bahwa mereka datang pada klaster. Sebuah getaran besar menekan pada bagian patahan, membawanya kepada sangat dekat runtuhan.

“Ini mirip seperti sebuah kemeja yang sobek. Ketika satu tempat meledak, maka yang lain akan mengalami tekanan hebat,” kata Tapponier.

Kerry Sieh dari California Institute of Technology's Tectonic Observatory mencatat bahwa tujuh dari 10 gempa besar abad 20 terjadi antara tahun 1950-1965 – dan lima dari antaranyanya terjadi di sekitar margin Pacifik bagian utara.

Apa yang membuat gempa 26 Desember begitu kuat adalah sebuah tipe yang disebut megathrust. Gempa-gempa itu bukan disebabkan oleh patahan permukaan yang bergerak bagian demi bagian, tapi akibat lempeng tektonik yang berpapasan satu dengan yang lain sepanjang perbatasan pada kerak bumi.

Dalam kejadian ini, terjadi dekat dengan titik lingkar api Pasifik yang terkenal dengan gempa dan tsunami. Lempeng bertemu dalam sudut oblique, yang berarti pergeseran itu tidak berlangsung lembut, tapi dengan kasar yang dapat menyebabkan tekanan dengan hasil tergelincir tegak lurus.

Semua ini memerlukan “semenit” pemicu untuk melepaskan gempa massif untuk melepaskan tekanan batuan, kata John McCloskey, profesor ilmu lingkungan pada Britain's University of Ulster.

Gempa 26 Desember terjadi pada titik petahan India, merupakan bagian dari patahan terbesar Indo-Australian, meluncurkan lempeng mikro Burma, yang merupakan bagian dari lempeng lebih besar, Eurasia.

Lokasi gempa tertekan pada seksi berikutnya di patahan itu. Sebagai hasilnya, adalah gempa berkekuatan 8,7 skala Richter yang terjadi pada Maret 2005 yang kejadiannya hanya 160 kilometer ke selatan, membunuh 900 an orang. Gempa besar yang terjadi di daerah itu adalah tahun 1861.

Ini, sedang bergerak, membentuk titik baru yang mudah terkena sekitar 500-600 km ke selatan, dekat Kepulauan Mentawai, begitu kekhawatiran ahli seismologi.

Pulau-pulau itu ada di Sunda Trench, panjang dan dalam memanjang ke bagian barat Sumatera dan menunjukkan lokasi lempeng Indo-Australia dan Erurasia.

Rata-rata, Kepulauan Mentawai memproduksi gempa sangat besar setiap 230 tahun, sesuai dengan catatan McCloskey. Kejadian terbesar terakhir terjadi pada 1833 dengan 8,5 skalara Ricter , yang menghasilan 10 meter gelombang tsunami.

Gelombang menghasilkan 200 km sepanjang lepas pantai akan pindah pada 750 km per jam, yang mana berarti akan menyerang 15-20 menit – hampir tidak cukup waktu untuk sistem peringatan tsunami untuk memberikan peringatan.

“Jika ada gempa berkekuatan sembilan di bagian selatan Sumatera, ini akan sangat mengerikan,” kata Tappoinnier. “Orang-orang harus berlari mencari tempat penyelematan begitu mereka merasakan getaran panjang pertama.”

Namun begitu, ramalan apapun bisa disampaikan. Panik pun tidak perlu, sebab yang penting adalah kesiap-siagaan. Soal maut dimana dan kapanpun bisa terjadi, bukan? (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com