|
Buana Katulistiwa - Longsor yang terjadi di sebuah sisi pegunungan di bagian timur pulau di Filipina, Jum'at (17/2) menyebabkan sedikitnya 200 orang tewas dan 1.500 orang lainnya hilang, kata pejabat palang merah.
"Suara longsor terdengar seperti ledakan, dan membuat semua tertimbun," kata Dario Libatan, seorang diantara korban yang selamat kepada radio Manila, DZMM. "Saya tidak dapat melihat lagi ada rumah yang masih berdiri."
Seperti dikutip AP, Jumat (17/2) ini, pimpinan Palang Merah Filipina, Senator Richard Gordon mengatakan bahwa longsor itu terjadi di sebuah desa di Pulau Leyte, menyusul hujan yang turun terus-menerus dalam dua pekan terakhir.
"Sejauh ini, belum dilakukan penghitungan jumlah korban, angka itu hanya estimasi," katanya Gordon kepada AP melalui telepon dari Jenewa, merujuk angka 200 meninggal dan 1.500 itu.
"Kini kami sedang memobilisasi operasi penyelamatan. Daerah ini sebelumnya tidak dikenal dalam kasus longsor."
Gubernur Provinsi Leyte Rosette Lerias kepada radio DZBB menyebut bahwa 500 rumah di Desa Ginsahugan, St Bernard, dikhawatirkan juga tertimbun. Sekolah menengah sedang dalam mengikuti pelajaran ketika longsor itu terjadi sekitar pukul 9.00 pagi. Belum ada prakiraan mengenai korban dari sekolah.
"Longsor ini diakibatkan oleh air hujan," kata Lerias, "Pohon-pohon tumbang dan terbawa dengan material lainnya."
Seorang pejabat lain menyebut hanya tiga rumah saja bertahan di desa tersebut, yang memiliki jumlah penduduk sekitar 2.500 orang. Enam orang yang selamat sedang dirawat di rumah sakit.
Pada bulan November 1991, sekitar 6.000 orang tewas di Pulau Leyte akibat bencana banjir dan longsor akibat badai tropis. (ss)
Powered by AkoComment! |