|
Buana Katulistiwa - Cuaca menjadi target yang paling mudah disalahkan dalam longsor yang mematikan Jum'at lalu, tapi korban yang selamat mengungkapkan bahwa illegal logging adalah faktor penyebabnya.
Hujan lebat telah mengguyur area tersebut selama dua minggu, melewati 27 inci ? dua kali lipat di atas rata-rata, kata Rosette Lerias, Gubernur Propinsi Leyte Selatan. "Daratan telah terendam karena hujan", kata Lerias. "Pohon-pohon merosot tegak lurus ke bawah terbawa bersama lumpur."
Tetapi menurut laporan kantor berita AP kemarin (20/2), para pejabat dan penduduk juga menyalahkan illegal logging yang telah berlangsung sejak 1970an. "Kegiatan ini berhenti 10 tahun lalu", ujar Roger Mercado, anggota Kongres yang mewakili daerah tersebut kepada radio DZBB. "Tapi longsor ini adalah efek dari kegiatan logging di masa lalu".
"Ada persamaan pada longsor yang terjadi pada akhir tahun 2004 dengan longsor pada akhir tahun 2003, keduanya berhubungan dengan illegal logging pada tanah yang berada di atas permukiman," kata Pat Vendetti, seorang aktivis lingkungan Greenpeace yang berbasis di London.
Vendetti mengatakan bahwa negara telah kehilangan sekitar 3,4 juta hektar hutan selama 15 tahun terakhir, "kira-kira hampir seluas negara Belgia." Ia mengatakan meskipun illegal logging diketahui ada di Filipina, kombinasi dari kepemerintahan yang buruk dan korupsi telah menghambat upaya penegakan hukum.
Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah menyalahkan kombinasi dari cuaca dan jenis pohon yang ada pada daerah tersebut.
"Daerah pantai Selatan Leyte yang terpencil merupakan hutan kelapa lebat," kata perwakilan Palang Merah Internasional di Genewa. "Pohon tersebut mempunyai akar-akar yang dangkal, yang dengan mudah dapat bergeser setelah hujan lebat, menyebabkan tanah menjadi tidak stabil."
Ketakutan akan longsor secara cepat mendorong pejabat setempat untuk mengevakuasi beberapa pemukiman beberapa minggu lalu. Tetapi dengan hujan yang reda dan cuaca cerah belakangan ini, banyak orang mulai pulang kerumahnya mengurus hasil panen dan ternaknya.
Hal tersebut merupakan kesalahan fatal. Karena dengan satu gemuruh, Gunung Guinsaugon dapat mengirim bongkahan batu-batu besar dan lumpur ke kaki-kaki gunung tersebut, mengubur desa Guinsaugon hingga tak bersisa.
Daerah rawan bencana tersebut sering menjadi target dari angin musim, banjir dan hujan lebat. Pada tahun 1991, sekitar 6000 orang tewas di Leyte pada banjir dan longsor yang dipicu oleh badai tropis. Sekitar 133 lainnya tewas pada banjir dan longsor pada tahun 2003. (bm)
Powered by AkoComment! |