Depan arrow Topik arrow Fisik arrow Khawatir Tsunami, Amerika Buat Peta Rawan Tsunami
Khawatir Tsunami, Amerika Buat Peta Rawan Tsunami Cetak E-mail
Kamis, 27 Januari 2005
Buana Katulistiwa ? Kecemasan akan tsunami rupanya tidak hanya menghantui negara-negara di lingkar Samudera Hindia. Amerika, yang pantai baratnya rawan gempa karena merupakan zona subduksi Cascadia mulai membuat peta rawan tsunami, mulai dari San Francisco sampai Alaska.

    Seperti dilansir CNN belum lama ini, peta tersebut menampilkan daerah-daerah yang potensial terkena tsunami, dampak kerusakan terhadap daerah-daerah yang terkena sampai perencanaan cara penanggulangan bencana tersebut jika benar-benar terjadi.

    Patahan Cascadia terletak 50 mil dari pantai barat Amerika dan 680 mil di bawah permukaan laut. Patahan ini memiliki sifat serupa dengan patahan sumatera yang menyebabkan tsunami tanggal 26 Desember 2004 lalu. Sejarah mencatat gempa dengan skala 9.0 SR terjadi pada tahun 1700, dengan adanya bukti bekas banjir di sepanjang areal Puget Sound.

    Bukti-bukti adanya tsunami juga jelas terlihat di India. Kota kuno bernama Kodalkol (yang dalam bahasa Tamil berarti tenggelam di laut) di Poompuhar diperkiraan tenggelam sekitar 1500 tahun yang lalu. Ahli sejarah selama ini memperkirakan tenggelamnya kota tersebut akibat naiknya air laut atau sebab-sebab lain yang tidak diketahui. Setelah terjadinya tsunami bulan Desember lalu, para ahli mulai mendapatkan petunjuk tenggelamnya kota kuno itu. Sekitar 170 orang meninggal di Poompuhar akibat tsunami Desember lalu.

    Walaupun Amerika telah memiliki sistem peringatan bahaya tsunami, tetap saja kekhawatiran muncul akibat keterbatasan persebaran teknologi peringatan tsunami. Sampai saat ini terdapat 6 instrumen peringatan tsunami bawah laut yang tersebar di Alaska, Washington, Oregon, Hawaii, dekat ekuator di lepas pantai Peru. Instrumen tersebut juga tidak maksimal karena tidak semua getaran gempa terekam dan tidak semua peringatan akan bahaya tsunami benar-benar terjadi.

    Kekhawatiran juga disebabkan dekatnya zona subduksi dengan wilayah padat penduduk. Oregon misalnya, hanya berjarak sekitar 50-70 mil dari daerah rawan gempa, yang berarti hanya diperlukan 10 menit jika terjadi tsunami untuk mencapai daerah tersebut.

    Teknologi satelit yang selama ini dipakai hanya bisa digunakan untuk mendeteksi tsunami yang telah terjadi jauh di tengah samudera dimana tidak ada teknologi lain yang dapat menjangkaunya. Satelit sebagai teknologi tinggi belum dapat digunakan untuk monitoring dan warning. (gn)
Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com