|
Buana Katulistiwa - Pembakaran besar-besaran yang dilakukan oleh penghuni yang akan menetap di Australia pada 50.000 tahun yang lalu, telah mengakibatkan punahnya keanekaragaman hayati di benua tersebut. Peristiwa ini memberi andil terhadap timbulnya perubahan cuaca yang akhirnya mengubah bentukan-bentukan alam yang ada menjadi hamparan gurun yang kering pada saat sekarang ini.
Hal tersebut dijelaskan oleh peneliti dari Amerika Serikat dan Australia, Selasa (25/1) lalu. Mengutip situs www.cnn.com, para peneliti dari kedua negara ini juga telah melaporkan hasil penelitiannya dalam jurnal geologi terbaru. Dalam jurnal itu disebutkan bahwa mereka mendukung pernyataan yang menyebutkan bahwa penghuni-penghuni awal benar-benar telah membumihanguskan bentang alam di benua Australia dengan api.
?Pengertiannya adalah bahwa pembakaran yang dilakukan oleh manusia-manusia terdahulu telah mengubah iklim dari benua Australia sendiri dengan melemahkan penetrasi kelembaban angin musim ke dalam interior benua,? jelas Gifford Miller, pemimpin penelitian ini dari Universitas Colorado. Pernyataan tersebut juga diperkuat dengan adanya catatan geologi yang menunjukkan bahwa interior benua Australia jauh lebih basah pada sekitar 125.000 tahun yang lalu.
Zaman Es terakhir telah mengubah keadaan cuaca di setiap pelosok bumi, tetapi angin musim mengubahnya menjadi es pada 12.000 tahun yang lalu, kecuali angin musim Australia.
Angin Musim Australia pada saat ini membawa sekitar 39 inch atau 1 meter air hujan setiap tahunnya yang bergerak ke Selatan dari Asia ke pantai utara Australia, tetapi hanya sekitar 13 inch (33 cm) air hujan yang jatuh di atas interior benua ini setiap tahun.
Miller menyatakan dalam penelitiannya bahwa adanya peristiwa kebakaran hebat cukup dapat mengubah populasi tumbuhan untuk mengurangi pertukaran uap air dengan atmosfer, yang mengakibatkan berkurangnya atau berhentinya proses pembentukan awan.
Para peneliti, bekerja sama dengan John Magee dari Australian National University di Canberra, menggunakan simulasi iklim global yang telah terkomputerisasi menunjukkan, jika saja terdapat hutan di bagian Tengah Australia, akan membuat angin musim menghasilkan hujan dua kali lebih banyak dibanding dengan pola yang ada sekarang.
Bukti fosil menunjukkan bahwa burung dan hewan-hewan berkantung yang pernah hidup di interior Australia, lebih suka mencari makan di pepohonan, semak-semak, dan rerumputan dibandingkan dengan di gurun.
Bukti yang lain ditunjukkan dari banyaknya deposit arang yang disebabkan luasnya kebakaran yang terjadi.
Keberadaan manusia juga mengakibatkan punahnya 85 persen hewan-hewan besar di Australia, termasuk burung yang sebesar burung unta, 19 spesies hewan berkantung, kadal sepanjang 7,5 meter, dan kura-kura sebesar mobil Volkswagen.
Para ahli mengatakan bahwa perubahan iklim menjadi panas tersebut lebih cepat memusnahkan spesies-spesies ini daripada jika diburu (dibunuh secara langsung) oleh manusia. (rtr/cnn/da) Powered by AkoComment! |