|
Buana Katulistiwa-Sekitar satu juta orang di seluruh Jepang mengambil bagian dalam persiapan bagi gempa besar, dalam suatu latihan tahunan yang kali ini untuk pertama kalinya mengikutsertakan otoritas Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Latihan ini, sebagaimana diberitakan AFP, Jum'at (1/9), berlangsung bertepatan dengan peringatan gempa Great Kanto tahun 1923, yang mengakibatkan lebih dari 142.000 orang tewas pada wilayah Tokyo.
Jepang merupakan negara yang akrab dengan gempa, sekitar 20 persen dari gempa besar dunia terjadi di negara ini, dan tetap mencemaskan akan munculnya gempa besar yang berikutnya. Dalam dua hari terakhir, Jepang telah dihampiri sedikitnya tiga gempa moderat.
Sekitar 800.000 orang termasuk polisi, pemadam kebakaran, tentara dan relawan lokal, Jum'at, melakukan latihan respon menghadapi gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter.
PM Junichiro Koizumi secara khusus mengadakan konferensi pers untuk kegiatan ini. "Berdasarkan gempa pada 7.15 pagi, kami telah menerima laporan bahwa penduduk terluka dan tewas," kata Koizumi.
"Pemerintah telah mengeset sebuah pusat kedaruratan bencana dan kementerian kini sudah melakukan kesepakatan untuk meresponnya," katanya.
Koizumi dihubungkan melalui telekonferensi dengan Gubernur Tokyo shintaro Ishihara dan Bank Jepang Toshihiko Fukui dalam rangka menyelematkan penduduk dan memastikan bahwa gerak ekonomi di ibukota yang merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia itu, berjalan dengan baik.
Sebuah studi yang dilakukan Pemerintah Metropolitan Tokto pada bulan Maret menyebut sebuah gempa berkekuatan 7,3 SR kemungkinan akan menewaskan 5.600 orang dan merusak 440.000 bangunan, mengesampingkan bahwa semua konstruksi tahan gempa.
Militer AS mengambil bagian dalam latihan ini untuk pertama kali dengan menggunakan helokopter dari Yokota di Tokyo membawa bantuan bagi penduduk.
Departemen pemadam kebakaran Seoul juga mengirimkan delegasi yang bekerja sama dengan konterpar Tokyo untuk menyelamatkan penduduk dari rerentuhan bangunan.(bj)
Powered by AkoComment! |