|
Buana Katulistiwa - Pemerintah Islandia tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana alam yang sewaktu-waktu bisa melanda negaranya. Bencana yang satu ini sangat unik, karena merupakan kombinasi dari gempa, gunung meletus serta jokulhlaups atau banjir bandang glasial.
Hal tersebut di atas berhubungan dengan kondisi rangkaian pegunungan berapi negara tersebut yang diselimuti oleh lapisan es. Dataran banjir di Islandia yang dikenal dengan sebutan sandur, berupa padang es yang membentang seluas 800 mil persegi. Sandur merupakan bagian dari pesisir selatan Islandia yang terbentuk sekitar 9.000 tahun yang lalu, di kala air yang mencair dari selubung es glasial Islandia mengalir dalam gelombang yang dahsyat yang disebut jokulhlaups, atau banjir bandang glasial (glacial outburst floods). Akan tetapi jokulhlaups (baca: youkelowps) bukanlah jejak geologis dari masa lalu. Peristiwa ini terjadi dengan keteraturan yang hampir bisa diprediksi, dan dapat beresiko besar bagi makhluk hidup dan properti di Islandia.
Banjir bandang glasial terjadi di berbagai wilayah di dunia di mana gletser menyelubungi puncak-puncak pegunungan berapi, seperti halnya di tempat ini. Cairan, gas dan uap dari gunung berapi aktif terus-menerus melelehkan lapisan es, menciptakan kolam-kolam air berlapiskan es glasial. Sebagian air tersebut mengalir sewaktu-waktu, kadang dalam aliran kecil dan terkadang bisa menyebabkan banjir.
Hal yang paling dikhawatirkan para ilmuwan adalah jenis banjir bandang glasial yang disebabkan oleh letusan gunung berapi. Lapisan es glasial menyelubungi 10 persen Islandia, sebuah negara yang mengangkangi punggungan Atlantik Tengah dan merupakan pusat dari aktivitas geotermal dan vulkanis. Hampir 60 persen dari erupsi gunung berapi di Islandia terjadi di bawah lapisan es glasial. Katla, salah satu gunung berapi terkenal di Islandia, telah meletus 5 kali sejak 1721, dengan interval waktu antara 34 sampai 78 tahun. Letusan terakhir terjadi pada 1918, dan itu berarti sebuah letusan kemungkinan telah terlongkapi. "Katla telah menunjukkan tanda-tanda aktif dalam beberapa tahun terakhir ini," ujar Magnus Tumi Gudmunsson, profesor geofisika di University of Iceland.
Persiapan menghadapi bencana
Untuk menghadapi bencana, para geolog dan insinyur di sana telah membangun sistem pemantauan yang sangat sensitif dengan jangkauan luas yang bertujuan untuk mempersiapkan peringatan dini terhadap banjir. Sistem tersebut telah menyuarakan 16 perkiraan akurat sejak 2001, meskipun belum pernah berhadapan dengan letusan besar.
Sistem pemantauan gempa yang dibangun beberapa tahun yang lalu terdiri dari jaringan instrumen yang terangkai sepanjang daerah pedesaan dengan konsentrasi rapat. Tak seperti seismometer konvensional yang mendeteksi getaran bermagnitudo lebih dari 1, kepunyaan Islandia telah disetel untuk mengukur magnitudo hingga minus 1 atau lebih kecil. Gempa-gempa mikro ini diperkirakan hanya dihasilkan oleh rekahan sepanjang 100 kaki atau lebih, sedangkan jalur patahan dari gempa yang dirasakan oleh manusia setidaknya 10 kali panjang tersebut. "Akan tetapi rekahan sangat kecil inilah yang seringkali menjadi tanda-tanda akan terjadinya sesuatu yang lebih besar," kata Dr. Matthew J. Roberts, glasiolog dari kantor meteorologi Islandia.
Dengan menggunakan seismometer baru untuk menentukan lokasi gempa tersebut, para ilmuwan dapat menandai pergerakan air. Dan dari udara, para ilmuwan dapat memantau permukaan es untuk tetap melacak akumulasi pelelehan air di bawah gletser. Pelelehan yang meningkat dapat terlihat dari udara dalam bentuk "lubang lelehan," atau kawah es; perkembangan kawah menandakan sebesar apa panas yang dilepaskan oleh gunung berapi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Katla semakin aktif memompa dalam kamar magmanya dan menunjukkan peningkatan aktivitas geotermal. Di akhir 2004, gunung tersebut mulai agak tenang. Akan tetapi pemerintah setempat tidak mau mengambil resiko. Seperti dilansir oleh nyt.com, Mei mendatang, Departemen Perlindungan Sipil Islandia berencana untuk melakukan pelatihan evakuasi skala besar di daerah setempat hingga ke arah barat di mana jokulhlaup sewaktu-waktu bisa melanda daerah permukiman.
Jokulhlaups
Ketika akan terjadi erupsi ? proses yang memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu ? air meleleh seperti lapisan di antara batuan dan dasar dari gletser. Tekanannya menyebabkan ?gempa es? di dalam gletser yang membuat lapisan es menjadi patah.
Pada saat letusan awal dimulai, magma yang tertekan meluap ke permukaan gunung berapi, meninggalkan air tanah yang mendidih di jalurnya. Es glasial berperan sebagai tutup panci tekanan raksasa: semakin tebal esnya, semakin besar daya tekanan baliknya terhadap lava yang sedang bererupsi.
Dan ketika gunung berapi meletus, magma sepanas 2.200 derajat Fahrenheit bertemu dengan es dan air mendidih, menyemburkan uap dan partikel batuan yang sangat banyak berkecepatan tinggi yang dari kejauhan terlihat seperti awan berbentuk cendawan.
Tak hanya itu. Uap air, berkombinasi dengan partikel-partikel kecil, menyembur dari letusan dan menciptakan muatan statis yang tinggi, menyebabkan petir menyambar beberapa kali setiap detik. Letusan Katla pada tahun 1918 disebutkan telah membunuh ratusan ternak yang digembalakan di sekitarnya ? oleh sambaran petir.
Lalu datanglah jokulhlaups. "Letusan di bawah gletser yang tebal seringkali mengakibatkan banjir glasial yang dahsyat yang bisa dimulai dalam hitungan menit hingga jam setelah letusan dimulai," kata Dr. Roberts. Banjir yang terjadi setelah letusan gunung berapi merupakan campuran dari air, abu, lumpur dan es; yang cenderung menyebabkan pedesaan di sekitarnya diselimuti oleh abu.
Pada tahun 1996, erupsi di bawah lapisan es Vatnajokull, massa es terbesar di Eropa, menyebabkan jokulhlaup yang menggiring sedimen, lelehan air dan es hingga 20 mil di sepanjang tepian gletser. Aliran air dari gletser membentuk sungai yang ukurannya menyaingi Amazon, setidaknya untuk beberapa menit. Sebuah jembatan hancur pada peristiwa tersebut, dan telah menambah luas wilayah Islandia sekitar 3 mil persegi. Namun banjir tersebut tidak mencapai permukiman, sehingga tidak ada korban jiwa maupun luka-luka.
Sebagai bahaya tambahan dari banjir, lelehan air vulkanis ini terkadang mengandung bahan kimia beracun yang dapat menyebabkan sesak napas ketika naik ke permukaan. Juli lalu, banjir semacam ini berasal dari kawah es di bawah sisi barat Vatnajokull. "Banjir tersebut kaya dengan hidrogen sulfida, sampai-sampai pencemaran yang ganjil itu dapat terlihat di atas permukaan air sungai," kata Dr. Roberts.
Akan tetapi pencemaran ini juga membuat para ilmuwan dapat memantau secara real time kemungkinan terjadinya banjir; bila airnya telah berinteraksi dengan sistem geotermal, air tersebut akan membawa larutan ion dan menyebabkan konduktifitas elektrik yang lebih tinggi. Hal ini juga dapat terukur.
Andrew Russel, geolog glasial dari University of Newcastle Upon Tyne, Inggris, yang singgah ke sandur tersebut musim panas lalu dengan karavan mobil-mobil Land Rover dan trailer kargo beserta relawan dari organisasi Earthwatch mengatakan, "Kami telah melihat beberapa momen proses pelelehan yang cantik ini," ujarnya. "Anda dapat merasakan secara langsung kekuatan yang sedang bekerja di sini." (qb)
Powered by AkoComment! |