|
Buana Katulistiwa - Menurut penemuan terbaru, suhu lautan bisa saja meningkat lebih tinggi selama satu abad terakhir kalau saja gunung-gunung berapi tidak memuntahkan debu dan gas ke lapisan atmosfer. Letusan gunung berapi juga telah meredam sebagian besar kenaikan muka air laut yang disebabkan oleh ulah manusia.
Para peneliti dari Lawrence Livermore National Laboratory (LLNL) menemukan bahwa naiknya suhu lautan dan tinggi muka air laut pada abad 20 telah diredam oleh letusan Krakatau di Indonesia. Dengan menggunakan 12 model iklim paling mutakhir, mereka meneliti simulasi model iklim dari 1880 hingga 2000, dan membandingkannya dengan data pengamatan yang tersedia. "Pemicu" eksternal, seperti perubahan gas-gas rumah kaca, radiasi matahari, sulfat dan gas-gas vulkanik juga turut diperhitungkan dalam model-model tersebut.
"Penurunan suhu tersebut menyebar hingga ke lapisan air laut yang lebih dalam, dan bertahan hingga puluhan tahun setelah letusan terjadi," ujar Peter Glecker, ahli atmosfer di LLNL. "Kami menemukan bahwa dampak gunung berapi terhadap tinggi muka air laut bisa berlangsung selama berpuluh-puluh tahun."
Dalam siaran pers yang dilansir www.llnl.gov kemarin (9/2), Gleckler, beserta rekan dari LLNL didukung National Center for Atmospheric Research di University of Reading dan Hadley Centre, berhasil mengungkap bahwa gas vulkanik menghalangi cahaya matahari dan menyebabkan turunnya suhu lautan. Mengingat bahwa perluasan dan penyempitan lautan tergantung kepada suhu lautan, maka tinggi muka air laut meningkat ketika memanas dan akan surut jika suhunya menurun.
Suhu lautan rata-rata di seluruh dunia (hingga kedalaman 300 meter) telah naik hingga 0,037 derajat celcius pada sepuluh tahun terakhir, berkaitan dengan meningkatnya gas-gas rumah kaca di atmosfer. Walau kelihatannya sedikit, hal ini berhubungan dengan kenaikan tinggi muka air laut dalam beberapa sentimeter dan tidak termasuk dampak dari faktor lainnya seperti pencairan gletser. Naiknya ketinggian muka laut tersebut, bagaimanapun dapat saja menjadi lebih besar jika tidak terjadi letusan gunung berapi dalam abad terakhir ini, kata Gleckler.
Percobaan yang dilakukan tim Gleckler juga menyertakan letusan Gunung Pinatubo pada 1991, yang hampir menyamai Krakatau dari segi kekuatan dan intensitasnya. Walaupun terjadi kesamaan penurunan suhu lautan dari kedua peristiwa tersebut, pemulihan kandungan panasnya (suhu kembali naik) terjadi lebih cepat pada kasus Pinatubo. Menurut Gleckler, hal tersebut banyak dipengaruhi oleh aktivitas manusia. (qb)
Powered by AkoComment! |