Depan arrow Artikel arrow Berita Dunia arrow Getaran Kecil adalah Kunci Peramalan Gempa
Getaran Kecil adalah Kunci Peramalan Gempa Cetak E-mail
Sabtu, 30 April 2005
Buana Katulistiwa- Ahli gempa yang mempelajari getaran kuat yang menyerang California, tahun lalu, menduga bahwa mereka telah menekan langkah bagus untuk meramalkan ukuran dan lokasi gempa masa depan.

Ahli gempa ini memiliki catatan lama bahwa ada pola yang regular dari gempa bumi pada wilayah Parkfield, California, dimana gempa menyerang rata-rata setiap 22 tahun. Gempa berkekuatan 6 magnitudo yang menyerang pada September 2004 memenuhi ramalan mereka.

Tetapi dalam beberapa hal, sebagaimana dilansir jurnal Nature pada 27 April 2005 lalu, gempa itu sendiri memberikan kejutan bagi mereka. Misalnya, mereka telah mengantisipasi kemungkinan gempa itu akan menyebabkan fore shock yang teratur, ternyata tidak. Mereka juga menyangka gempa akan memecahkan bagian patahan di sebelah utara sebagaimana yang terjadi di masa lalu, ternyata ia meretak dari selatan. Dan gempa itu sebenarnya terjadi cukup telat, yaitu 38 tahun dari gempa terakhir.

Danijel Schorlemmer dan Stefan Wiemer dari Swiss Seismological Service di Zurich berpendapat, dengan menggunakan sebuah analisis atas gempa kecil yang terjadi di wilayah itu lebih dari tiga dekade, dapat dipakai untuk meramalkan perilaku getaran yang tidak biasa. Mereka juga berpendapat, teknik yang sama juga bisa membantu mengidentifikasi berbagai resiko gempa lain di seluruh dunia.

Teknik ini belum dapat diharapkan untuk dapat memastikan waktu gempa yang akan terjadi dalam hitungan hari ke depan. Tapi, sebagaimana disampaikan pakar gempa John McCloskey dari Universitas Ulster, Inggris, "Jika mereka menemukan kejadian diantara 10 tahun, itu merupakan awal dari informasi yang sangat penting."

Kecil dan Sering

Ukuran gempa berhubungan terbalik dengan berapa sering mereka terjadi, gempa yang sangat kecil lebih sering terjadi daripada yang besar. Tapi bagaimana perluasan yang lebih umum bervariasi dari satu tempat ke tempat lain.

Schorlemmer and Wiemer telah memetakan variasi ini dan menunjukkan kejadian bahwa itu terjadi pada sepanjang patahan (fault) tunggal. Mereka menetapkan bahwa, berdasarkan pemantauan persebaran kejadian kecil di masa lalu, memungkinkan untuk membangun gambaran area yang paling tertekan (stress). Ini berarti mereka dapat mengatakan bagian mana yang hampir bisa dipastikan tergeser di masa datang.

Ketika mereka melihat data dari Parkfield, Schorlemmer dan Wiemer menemukan bahwa bagian selatan ujung rupture zone (zona pecahan) adalah zona yang mengalami tekanan terbesar, yang boleh menjelaskan mengapa gempa bumi dimulai di sana.

Mereka mengatakan bahwa keseluruhan area kelihatannya memiliki getaran lebih "besar, jarang" dibandingkan dengan yang diramalkan para ahli sebelumnya. Ini bisa jadi alasan mengapa gempa pada September terkesan "terlambat".

Analisis semacam ini memberikan manfaat, kata McCloskey. Ia juga menggunakan tingkat ketegangan di jalur patahan untuk meramalkan lokasi dan skala gempa. Seperti diketahui, McCloskey telah berhasil meramalkan getaran berkekuatan 8,7 magnitudo yaang diikui oleh tsunami pada 26 Desember 2004.

Meski begitu, studi McCloskey pada wilayah tegangan tidaklah memberikan gambaran yang menyeluruh. Bagaimana dan dimana sebuah gempa terjadi juga tergantung pada kekuatan batuan dan bagaimana sebuah patahan atau wilayah patahan, memberikan jalan. "Ada banyak kompleksitas internal," katanya. (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com