Depan arrow Topik arrow Fisik arrow Geografi Menyelamatkan Pangkalan Amerika dari Tsunami
Geografi Menyelamatkan Pangkalan Amerika dari Tsunami Cetak E-mail
Rabu, 19 Januari 2005
Buana Katulistiwa- Lokasi dan topografi bawah laut, terbukti telah memberi perlindungan bagi pangkalan militer Amerika Serikat di sekitar kepulauan Diego Garcia dari serangan tsunami yang melanda Samudera Hindia.Pejabat Armada Pasifik mengatakan, fasilitas angkatan laut dan operasi nya di pulau karang Inggris ini tidak terpengaruh gempa dan tsunami yang terjadi 26 Desember 2004, karena faktor geografis tersebut.

    "Topografi lautan yang menguntungkan meminimalkan dampak tsunami pada pulau karang," kata pejabat itu pada website pangkalan sebagaimana dikutip AP, Selasa (4/1) lalu.

    Sebagai stasiun pengisian udara dan bahan baker pangkalan laut ini didiami sekitar 4.000 personil dan staf pendukung Amerika, Diego Garcia adalah satu-satunya pangkalan militer AS yang ada di Samudera Hindia, pelabuhan persinggahan untuk mendukung marinir dan pelaut, seluas 2 ? mil. Sejak perang Irak tahun 2003, pesawat pembom B-2 melakukan misi rahasianya dari pangkalan ini.

    Pulau karang ini terletak di kepulauan Chagos, barat Chagos Trench (Parit Trench), sebuah jurang di bawah laut yang panjangnya 400 mil dari utara dan selatan, dan menukik ke pedalaman lebih dari 15.000 feet di beberapa tempat. Trench ini merupakan satu dari wilayah paling dalam di Samudera Hindia.

    "Kedalaman Chagos Trench dan kesulitan mencapai pinggir pantai tidak memungkinkan bagi tsunami untuk membesar sebelum mencapai pulau," kata angkatan laut itu. "Hasilnya hanya berupa gelombang yang diperkirakan sekitar enam feet."

    Tsunami adalah pergerakan air dari kedalaman menuju permukaan, dan semakin membesar seiring dengan semakin dangkalnya topografi pantai. Namun dalam kasus Diego Garcia, gelombang itu mampu diredam oleh dalamnya laut, kata Gerard Fryer, seorang geophysicist dari Universitas Hawaii dan penasihat pertahanan sipil negara bagian.

    Diego Garcia sendiri berjarak 2.000 mil dari episentrum gempa berkekuatan 8,9 skala Richter yang menyebabkan tsunami itu.

    Di wilayah Indonesia sendiri, Pulau Simeulue juga mengalami nasib terbaik dari serangan bencana alam yang sudah menewaskan lebih dari 160.000 jiwa itu. Dengan jaraknya yang paling dekat dengan episentrum, pulau ini hanya didapati korban yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan, dibandingkan dengan wilayah Aceh utara, hingga pesisir baratnya yang hencur total.

    Belum ada bukti-bukti baru yang menunjukkan kasus Diego Garcia juga dialami oleh pulau ini. Namun begitu, dipercaya bahwa paduan antara topografi bawah laut yang curam dan dalam serta topografi darat yang terjal, tidak memungkinkan gelombang tsunami mampu berkembang besar. Didukung lagi dengan adanya kesadaran masyarakat mengenai tanda-tanda bahaya sebuah gempa yang tiba-tiba menarik surut air laut. Sebuah kesadaran yang didasarkan pada pengalaman sebelumnya.

    Termasuk kemungkinan yang jarang disinggung oleh kalangan pengamat yaitu migrasi penduduk yang relative konstan di daerah ini yang menyebabkan pengalaman masa lalu soal bencana alam itu tidak mudah lupa oleh pendatang baru? Sesuatu yang sangat berbeda dari Aceh di bagian utara dan barat, yang pertambahan penduduknya termasuk pendatang baru demikian cepat sehingga tidak ada transformasi pengalaman atas peristiwa masa lalu tidak berlangsung dengan baik? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu untuk diteliti lebih lanjut. (bj)
Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com