Depan arrow Topik arrow Ekonomi arrow Produksi Minyak Segera Masuki Puncaknya, Lalu Turun Permanen?
Produksi Minyak Segera Masuki Puncaknya, Lalu Turun Permanen? Cetak E-mail
Selasa, 31 Mei 2005
Buana Katulistiwa - Para pengamat memprediksi, produksi minyak dunia akan memasuki puncak produksinya tahun ini-atau tahun depan, untuk selanjutnya akan menurun drastis. Mandi minyak yang murah dan berlimpah yang terus bertambah sejak 100 tahun ini segera akan menurun.

Kejadian ini kemudian akan menyebabkan kenaikan harga minyak secara drastis. Negara-negara utama pengkonsumsi minyak akan mengalami inflasi, instabilitas dalam pengangguran dan ekonomi. Ahli geologi dari Universitas Princeton Kenneth S Deffeyes meramalkan terjadinya "situasi kekurangan minyak yang permanen".

Mengacu kepada ahli ini, kondisi ini akan berlangsung selama satu dekade atau bahkan lebih sebelum teknologi baru dan konservasi menemukan jurang pemisah antara penawaran dan permintaan, dan hingga situasi ini dapat diatasi.

Namun begitu, seperti ditulis AP, Minggu (29/5), tidak seorang pun yang tampaknya terpengaruh dengan ramalan ini, dan orang-orang tetap saja merencanakan liburan musim panas mereka. Orang-orang Amerika masih melakukan liburan mereka ke pantai dan perjalanan ke Graceland tanpa terpengaruh oleh biaya perjalanan. Meskipun harga gas naik, mereka menduga tidak akan pernah melebihi $2,50 per gallon.

Dan ada banyak yang tak menyangka bahwa hari "kiamat" itu akan datang. Kebanyakan analis industri perminyakan berpikir bahwa produksi akan tetap bertumbuh hingga 30 tahun ke depan. Dalam perjalananan ke tahun itu, sumber energi pengganti akan ditemukan dan memudahkan transisi ke era pasca-minyak.

"Ini benar-benar bodoh," kata Michael Lynch, Presiden Strategic Energy and Economic Research di Winchester, Mass. "Ini bukan semacam kehancuran peradaban industri."

Persoalan "Puncak Minyak" ini sepertinya tergantung pada kekuatan mana yang paling dominan dalam melakukan kontrol pada pasar minyak. Orang-orang yang menaruh perhatian pada kekuatan ekonomi percaya bahwa harga tinggi saat ini karena peningkatan permintaan minyak China dan yang lainnya yang mengalami pertumbuhan ekonomi. Tapi, tingginya harga minyak akan menyebabkan kumsumen menggunakan lebih irit dan produsen berupaya untuk memompa minyak lebih banyak.

Tapi Deffeyes dan ahli geologi lainnya melihat bahwa Arab Saudi, Rusia, Norwegia dan produsen minyak lainnya telah memompa secepat yang mereka sanggup. Jalan satu-satunya untuk meningkatkan kapasitas produksi adalah mencari lebih banyak lagi ladang minyak.

"Kalangan ekonomi berpikir bahwa jika Anda menunjukkan tumpukan uang , maka tuhan akan menaruh lebih banyak lagi minyak di bawah tanah," kata Deffeyes.

Disana ada sinyal peringatan sebelum produksi minyak global mencapai puncaknya, dengan berbagai berita buruk lainnya. Harga minyak akan naik drastis dan terus meningkat. Dengan sedikit atau tanpa ekses kapasitas produksi, mengecilnya penawaran- instabilitas keamanan di Venezuela, topan di Teluk Meksiko atau kerusuhan pekerja di Nigeria, sebagai contoh ? akan menyebabkan pasar minyak resah. Secara berkala, perusahaan minyak dan negara kaya minyak tengah menaksir terlalu tinggi cadangan minyak mereka.

Produsen minyak akan meningkatkan masukan dana. Dan karena harga minyak berdampak pada biaya ekonomi, maka inflasi akan menggila. Setiap orang akan bertanya, dapatkah harga $5 untuk tiap gallon gas dapat diterima?

"Dunia belum pernah terlihat seperti ini sebelumnya dan juga kita tidak pernah tahu," kata Robert L. Hirsch, seorang analis energi pada Science Applications International Corp., perusahaan konsultan di Santa Monica, California. "Ada sejumlah profesional sangat pesimis."

Pesimisme yang datang dari episode legendaris dalam sejarah geologi perminyakan. Kembali pada tahun 1956, seorang ahli geologi bernama M King Hubert memprediksi bahwa produksi minyak Amerika akan mencapai puncaknya pada tahun 1970.

Atasannya pada perusahaan Shell ketika itu terperanjat. Mereka mencoba untuk mendekati Hubbert untuk tidak bicara kepada publik mengenai hal itu. Pendapatnya bahwa dekade penemuan minyak dianggap skeptis.

Tapi Hubbert benar. Produksi minyak Amerika mencapai puncaknya pada 1970, dan merosot dengan tegas sejak tahun itu. Walaupun dengan penemuan yang sangat impresif seperti pada Alaska?s Prudhoe Bay, dengan 13 miliar barrel, tidak sanggup untuk menghalangi trend itu.

Hubbert memulai analisnya dengan mempelajari statistis mengenai berapa banyak minyak telah ditemukan dan diproduksi pada 48 negara bagian, termasuk di lepas pantai, antara 1901 dan 1956 (Alaska tetap terra incognita bagi ahli geologi perminyakan 50 tahun lalu). Datanya menunjukkan bahwa cadangan minyak negara telah menunjukkan peningkatan drastis dari 1901 hingga 1930-an, dan tampak lebih menurun setelah itu.

Ketika Hubbert membuat pola grafik, tampak jelas suplai minyak Amerika telah mencapai puncaknya. Cadangan minyak Amerika sudah maksimum, dan kemudian mereka akan mulai menyusut sejalan dengan upaya perusahaan minyak menyedot minyak lebih cepat dari yang ditemukan para ahli geologi. Itu dianggap masuk akal. (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com