|
Buana Katulistiwa - Kampanye ke seluruh penjuru dunia akan sangat efektif dan merupakan salah satu strategi yang diperlukan bagi perusahaan internasional, tetapi bila dikemas dengan sensitivitas budaya lokal yang kuat, setidaknya hal tersebut yang dikatakan oleh beberapa eksekutif marketing dalam sebuah panel diskusi pada hari rabu (27/9) di AdWeek.
AdWeek merupakan koran mingguan yang dimiliki oleh VNU Business Publications, USA, inc. AdWeek mengulas berita dunia periklanan baik global, nasional maupun lokal.
Dalam sebuah sesi diskusi "Kampanye Global, Mitos atau Keajaiban?", Rob Stagno (General Manager Microsoft), Diego Scotti (Vice President Global Advertising), Chris Goodman (Advertising Manager Accenture) dan Jim Speros (Chief Marketinf Officer Ernst & Young), memberikan opini-opini mereka mengenai apa yang harus dilakukan dan tidak dalam pemasaran global.
Para panelis mendiskusikan mekanisme untuk memastikan pesan dari tiap produk didistribusikan secara konsisten keseluruh penjuru dunia. Sebagai contoh Ernst & Young memiliki dewan pemasaran global yang terdiri dari 20 pakar pemasaran dari berbagai negara yang bertemu secara reguler.
Permasalahan terjadi ketika budaya lokal tidak dianggap sebagai sesuatu yang berpengaruh dalam mengiklankan sesuatu. Para eksekutif tertipu oleh kesalahan terbesar mereka. Iklan kartu kredit American Express misalnya menayangkan Tiger Woods bermain golf disaat hujan, menunjukkan kegigihannya, sukses di Amerika Serikat, namun gagal total di Amerika Latin dan Italia dimana orang tak mengerti kenapa Tiger Wood ingin bermain di cuaca buruk. Contoh lain, sebuah iklan Microsoft menampilkan gambar seorang pria dengan kepala dinosaurus, tidak ditanggapi di Jepang karena mirip dengan Godzilla. Hal yang sama juga tidak berlaku di Thailand dimana membandingkan hewan dengan manusia adalah sesuatu yang tabu.
Para eksekutif menyadari hal tersebut dan masih menunggu bagi tiap perusahaan untuk berintegrasi, serta mengatakan bahwa sebuah "model" tidak terlalu efisien untuk menciptakan pemahaman yang konsisten diseluruh dunia. Namun peningkatan pemakaian internet, disisi lain memudahkan untuk menciptakan kampanya secara global. Dengan pesatnya arus informasi sekarang ini , membuat teknologi dapat dibuat tidak berdasarkan lokasi, Speros mengatakan "Apa yang menjadi konten lokal sekarang ini bisa menjadi konsumerisme dunia dan tidak bergantung secara geografis. Kemungkinan tersebut sangat nyata terlihat." (tk) Powered by AkoComment! |