|
Buana Katulistiwa - Enam negara penghasil polusi terbesar dunia akan bertemu di Sydney akhir minggu ini untuk mempublikasikan teknologi energi bersih sebagai salah satu cara mengatasi perubahan iklim Amerika Serikat tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
Amerika Serikat, Jepang, Cina, India, Korea Selatan dan Australia akan
menyelenggarakan pertemuan pertama Kerjasama Asia-Pasifik untuk
embangunan Bersih dan Iklim. Mereka menyatakan bahwa pertemuan ini
bukan sebagai saingan dari Protokol Kyoto mengenai gas rumah kaca
namun lebih sebagai pelengkap.
Namun berbeda dengan Protokol Kyoto, seperti dikutip Reuters, keenam negara tersebut tidak menetapkan target untuk pengurangan emisi bahan bakar fosil dan beberapa analis lingkungan menduga hasil pertemuan tersebut tidak akan
signifikan bagi penanganan perubahan iklim.
Sumber dari pemerintah Australia mengatakan kepada Reuters bahwa
kerjasama negara-negara tersebut merencanakan mengumpulkan dana untuk
membantu membangun teknologi energi yang lebih bersih dan akrab
lingkungan, dimana Australia akan memulai dengan menyumbang sekitar 75
juta dolar Amerika Serikat.
Kerjasama tersebut juga mengajak sektor swasta sebagai pendukung untuk
membangun dan mengembangkan teknologi seperti batubara bersih dan
energi yang dapat diperbaharui, serta akan menemui beberapa perusahaan
energi terbesar di dunia termasuk BHP Biliton dan Exxon Mobil, selama
pertemuan dua hari nanti.
Para kritikus mengatakan bahwa pertemuan tersebut hanyalah kegiatan
untuk menguntungkan negara-negara industri. Menurut data yang
dikeluarkan oleh keenam negara tersebut, dikatakan bahwa keenam negara
mencakup 45 % penduduk dunia, 48 % emisi gas runah kaca dan 48 %
konsumsi energi di dunia. Analis lingkungan memperkirakan teknologi
batubara bersih, yang menggunakan berbagai variasi untuk mengurangi
emisi karbondioksida dan gas lainnya yang mengancam atmosfer, akan
menjadi kunci utama di pertemuan nanti.
Empat dari keenam negara tersebut sangat bergantung pada batubara
sebagai sumber energi dan Badan Energi Internasional memperkirakan
peningkatan penggunaan batubara sebesar 43% di dunia mulai dari tahun
2000 hingga 2020 nanti.
Australia dan Amerika Serikat mengatakan teknologi bersih merupakan
pendekatan yang lebih baik dibandingkan dengan membuat target untuk
pengurangan emisi.(tk/reuters) Powered by AkoComment! |