Depan arrow Topik arrow Ekonomi arrow Menristek Serukan Penggunaan Produksi Anak Bangsa
Menristek Serukan Penggunaan Produksi Anak Bangsa Cetak E-mail
Senin, 08 Agustus 2005
Buana Katulistiwa - Hasil riset dan produksi dalam negeri tidak kalah dengan produk negara-negara lain. Menurut Menristek Kusmayanto Kadiman, hal itu harus mendorong bangsa Indonesia mencintai produksi dalam negeri.

Seruan itu disampaikan Menristek setelah membuka dan berkeliling berbagai stand dalam pameran ASEAN RITECH EXPO 2005, di Gedung Kementerian Ristek, Jakarta, akhir pekan lalu.

Selain itu, Kusmayanto menyampaikan komitmennya untuk menggunakan piranti lunak (software) buatan anak bangsa pada seluruh kementeriannya dan lembaga non departemen yang berada di bawah koordinasinya seperti BPPT, LIPI, LAPAN, Bakosurtanal, BATAN, Bapeten dan lainnya.

Piranti-piranti lunak yang disediakan kementeriannya itu berupa opensource yang terbuka digunakan siapa saja secara gratis, dengan demikian ia mengharapkan tidak ada lagi institusi di Indonesia yang menggunakan piranti lunak bajakan.

"Untuk lingkungan kami sendiri akan saya ?pentung? jika masih juga menggunakan software bajakan mulai awal September, kita kan sudah bisa membuatnya sendiri, kalau ada yang belum bisa membuat sendiri ya beli saja yang lisensi," katanya.

ASEAN RITECH diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-10 yang juga bertepatan dengan pelaksanaan The 7th ASEAN Science and Technology Week (ASTW). ASEAN Research, Innovation, and Technology (Ritech) Expo bertema "Innovative ASEAN" yang bermaksud mewujudkan Daya Saing Asean melalui inovasi Iptek itu diikuti 87 peserta dengan menempati 132 stand.

Bersamaan dengan pembukaan pameran yang menampilkan perkembangan hasil-hasil riset, inovasi, dan teknologi yang dicapai komunitas Iptek Indonesia dan kawasan ASEAN itu juga dilakukan peluncuran Sistem Desktop IGOS dan peresmian sistem Photovoltaic Grid Connected di BPPT.

Khusus mengenai Photovoltaic Grid Connected, Kusmayanto mengatakan, pemerintah bersama BPPT mulai mengembangkan energi listrik bertenaga surya dengan target gedung-gedung pemerintah, komplek-komplek perumahan dan penerangan jalan umum untuk mengurangi penggunaan BBM.

"Tentu lumayan mengurangi cost BBM," kata dia. Sistem yang dikembangkan tersebut dapat dimiliki secara perorangan atau institusi dan merupakan pembangkit listrik yang dapat disimpan dalam jaringan PLN untuk mengurangi beban puncak PLN sekaligus dapat dijual kepada PLN.

Sementara itu, Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi BPPT Agus Salim mengatakan, di luar negeri sistem tersebut sudah dimanfaatkan, bahkan masyarakat bisa menjual kelebihan listrik simpanannya kepada perusahaan listrik negaranya.

Ia mengingatkan, BBM Indonesia bila tidak ditemukan lagi cadangan baru dan produksi tetap dipertahankan 500 juta barrel per tahun, maka bisa habis hanya dalam waktu 18 tahun lagi. Padahal, tahun 2025 pemerintah menargetkan 95 persen dari seluruh rumah Indonesia sudah terlistriki.

Pada 2005 ini rasio kelistrikan baru mencapai 52 persen atau 18 juta rumah, sementara pada awal dimulainya penggunaan tenaga surya tahun 1989 rasio kelistrikan 32 persen.

Dikatakan, sistem pembangkit listrik tenaga surya yang telah diterapkan di Indonesia yakni Solar Home System (SHS) untuk pedesaan atau kepulauan dengan pola pemukiman yang menyebar dan tidak terjangkau PLN.

Selain itu juga telah diterapkan sistem PV-diesel Hybrid untuk pedesaan dan kepulauan dengan pola pemukiman terkonsentrasi dan sudah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga diesel sehingga waktu kerja diesel yang terbatas dapat dilengkapi secara bergantian dengan sistem tenaga surya tersebut.

Dikatakan Agus, sistem PV Grid Connected yang akan diberlakukan di perkotaan selain bisa membantu PLN mengurangi beban puncak juga membantu pemerintah mengurangi biaya subsidi BBM. Sistem pembangkit PLN saat ini menggunakan BBM mencapai 50 persen di luar Jawa dan hampir 25 persen pada sistem Jawa-Bali.

"Bila harga BBM tak bisa lagi disubsidi maka harga bahan bakar diesel akan mencapai Rp4.300 per liter dan membuat harga listrik per kiloWattjam naik dua kali lipat," katanya. (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com