|
Buana Katulistiwa - Setelah mencapai tingkat level tertinggi 65,30 dolar AS pada Kamis (11/8), pekan ini, pada Sabtu (13/8), harga minyak mentah dunia sudah mendekati angka 67 dolar AS per barel. Ini level tertinggi sepanjang sejarah sejak komoditas ini mulai diperdagangkan pada 1983 dan yang mengenaskan tidak seorang pun dapat memprediksi pada level berapa dia akan berhenti.
Keganjilan memang dirasakan berbagai kalangan, terutama mengingat permintaan minyak AS khususnya akan menurun pada musim panas, sebaliknya biasanya meningkat pada musim dingin. Namun tahun ini, permintaan juga meningkat drastis pada musim panas ini.
Para analis mengatakan, permintaan minyak yang mencapai puncaknya pada musim panas ini telah mendorong tingginya permainan minyak mentah di AS. Minggu lalu, permintaan minyak meningkat 1,4 persen dari tahun lalu, sesuai dengan data pemerintah.
"Orang-orang takut cadangan minyak tak mencukupi, sehinga mereka terus membeli, membeli dan membeli," kata Tetsu Emori, Kepala Komoditas Strategis pada Mitsui Bussan Futures di Tokyo seperti dikutip AP.
Pada Kamis lalu, Departemen Energi AS mengatakan, cadangan minyak jatuh dari 2,1 juta barel menjadi 203,1 juta barel pekan lalu.
Banyak analis memperkirakan, membubungnya harga minyak akan menyebabkan fenomena perlambatan ekonomi dan meningkatnya inflasi di Asia, yang kemungkinan dampak besarnya akan dialami pada tahun 2006 mendatang.
Berdasarkan hitung-hitungan Kepala Ekonom Morgan Stanley untuk Asia-Pasifik, Andy Xie, setiap kenaikan harga minyak US$ 1 per barel akan menyebabkan terjadinya penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi Asia Timur (di luar Jepang) sebesar 0,1 persen. Korea Selatan dan Thailand, kata Andy, merupakan dua negara di kawasan ini yang akan paling merasakan dampak kenaikan harga minyak.
Di belahan dunia lainnya, seperti Eropa juga menunjukkan kecemasan yang sama. Menkeu Perancis Dominique, misalnya pernah menyebut jika harga minyak misalnya bertahan pada level US$ 50 per barel, maka pertumbuhan ekonomi Perancis akan turun 1 persen, sebab harga rata-rata minyak yang telah dipatoknya tahun depan hanya di kisaran US$ 36,5 per barel.
Di dalam negeri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan terus terang pernah mengaku bahwa kenaikan harga minyak dunia ini membuat dirinya deg-degan.
Kenaikan itu bahkan telah memicu krisis BBM, yang kemudian diikuti bayang-bayang kenaikan harga BBM demi untuk meringankan beban anggaran. Belum jelas benar berapa persentase kenaikan ini, termasuk kapan baiknya dilaksanakan, namun dari penjelasan Menteri Negara dan Kepala Bappenas Sri Mulyani dan pihak Panitia Anggaran DPR kemungkinan kenaikan itu baru akan dilaksanakan pada tahun 2006.
Pemerintah memang belum menyebut angka kenaikan kecuali hanya menyebut jika dinaikkan maka akan dilakukan bertahap, dan perhitungannya pun diupayakan tuntas pada September-Oktober. Namun kalangan DPR sendiri mendorong dengan angka kenaikan sekitar 30% sampai 40%, dengan alasan jika menaikkan harga BBM antara 10% sampai 20%, belum memberi andil yang bermakna bagi anggaran negara. Dengan kenaikan harga BBM sekitar 30%-40%, pemerintah diharapkan mampu menekan subsidi menjadi Rp 76,5 triliun atau paling tinggi Rp 95 triliun.
Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, M Chatib Basri menghitung, setiap kenaikan harga minyak US$ 1 per barel akan menghasilkan dampak neto bagi anggaran pemerintah pusat sebesar Rp 0,1-0,15 triliun. Ini berarti, dengan perubahan asumsi harga minyak yang ditetapkan pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2004 dari US$ 22 per barel menjadi US$ 36 per barel, akan ada kenaikan defisit anggaran Rp 1,4-2,1 triliun.
Pakar geoekonomi UI, Nuzul Achjar kepada Buana Katulistiwa mengatakan, kenaikan harga minyak mentah dunia yang kemudian diikuti oleh kenaikan harga BBM di dalam negeri akan menimbulkan multiplier effect ke berbagai bidang kehidupan, sehingga harus segera dipikirkan langkah mengantisipasinya.
"Untuk industri pariwisata, misalnya, tentu akan menyebabkan kenaikan harga airplane, menurunnya tingkat hunian hotel, lalu akan mendorong tingginya biaya operasional hotel atau usaha jasa lainnya," kata dia.
Nuzul sendiri tidak terlalu mempersoalkan dugaan adanya konspirasi atau permainan di tingkat global yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia tersebut. Faktanya, kata dia, kebutuhan industri di berbagai belahan dunia memang naik terus. Sebagai contoh, Jepang terus saja meningkatkan produksi kendaraan, sehingga kebutuhan akan minyak memang terus meningkat.
Bagi Indonesia, kata Nuzul, masalah klasik tidak sinkronnya kebijakan di sektor perdagangan dengan kebijakan energi menjadi mencuat kembali, sebagai persoalan yang terus menggangu. "Itu sudah dari dulu, sehingga bukan keanehan apabila masalah itu mencuat kembali."
Menurut dia, terganggunya supply dan demand BBM juga pernah terjadi pada tahun 1990. Solusinya, harus dilakukan pengurangan konsumsi BBM, pengurangan konsumsi baru, dan upaya pengalihan energi alternatif untuk industri misalnya dengan penggunaan gas dan batu bara.
"Menurut saya langkah mengurangi konsumsi baru ini menjadi sangat penting, artinya harus ada upaya pembatasan kendaraan. Tanpa itu akan sulit," kata dia.
Sementara mengenai rencana pemerintah untuk menaikkan harga minyak untuk kesekian kalinya, Nuzul mengatakan bahwa kenaikan itu harus dilakukan secara proporsional dan juga bukan sekaligus, sebab akan berdampak serius pada kehidupan masyarakat. (bj) Powered by AkoComment! |