Depan arrow Topik arrow Ekonomi arrow Demokrat Luncurkan “Ketidaktergantungan Energi 2020”, Pengamat Pesimis
Demokrat Luncurkan “Ketidaktergantungan Energi 2020”, Pengamat Pesimis Cetak E-mail
Selasa, 13 Desember 2005
Buana Katulistiwa - Partai Demokrat, AS, meluncurkan sebuah rencana bagi kebebasan dari ketergantungan energi yang mereka sebut sebagai “Energy Independence 2020”, mengatasi ketergantungan minyak dan gas dari luar negeri. Tapi beberapa kalangan pesimis karena hal yang sama pernah dicanangkan politisi 1990-an.

Senator dari New York, Hillary Clinton, Senator Harry Reid (Nevada), Gubernur Pennsylvania Ed Rendell mengatakan, penggunaan energi terbesar dari energi yang terbarukan, transportasi massa dan bahan bakar domestik seperti ethanol dan biodiesel, dapat mengurangi impor minyak dan gas.

Rencana ini, seperti diberitakan Reuters, diumumkan Senin (Selasa WIB). Presiden George W Bush kini tengah mencari produksi minyak dalam negeri atas tekanan Kongres termasuk pembukaan Alaska's Arctic National Wildlife Refuge untuk memompa minyak, dalam sebuah ketentuan yang akan ditentukan nasibnya melalui voting pekan ini. Bush juga mendukung investasi besar dalam bidang energi hydrogen.

Para analis energi menyebut AS, yang mengkonsumsi sekitar seperempat dari 80 juta barrel minyak dunia per hari, akan tergantung pada impor selama beberapa dekade ke depan, antara lain karena faktor penggunaan bahan bakar alternatif yang tergolong kecil.

Rendel mengaku tertetik dengan Brasil, yang telah mampu mengurangi ketergantungan pada minyak mentah melalui pembuatan bahan bakar dari gula tebu dan melalui produksi kendaraan yang berbahan bakar gas atau etanol. “Jika Brasil dapat melakukannya, kita juga bisa,” kata Rendell.

Clinton kepada wartawan mengatakan, ketergantungan pada minyak membuat defisit sepertiga perdagangan negara.

AS menghabiskan 50 miliar dolar AS per tahun untuk membiayai militer AS di Teluk Timur Tengah dan untuk mensuplai militer untuk mengamankan arus minyak ke AS. “Dan itu belum termasuk nyawa dan dolar yang dihabiskan di Irak,” katanya.

Robert Ebel, pimpinan program energi pada Center for Strategic and International Studies di Washington, mengatakan jumlah kendaraan dan stasiun pelayanan mendorong infrastruktur energi AS tampaknya ragu menanggapi upaya lepasnya ketergantungan energi dalam 15 tahun.

Dia menyebut bahwa para politisi pernah merencanakan kebebasan ketergantungan energi tahun 1990. Tapi sejak itu impor minyak telah meningkat sekitar 10 persen. “Kita harus memadukan pemasok minyak dan konsumen saling membutuhkan. Apa yang kita inginkan adalah lebih banyaknya interdependensi energi (energy interdependence), bukan energy independence.” (ss)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com