Depan arrow Artikel arrow Berita Dunia arrow Cadangan Logam Bumi Tak Cukup Untuk Semua Manusia?
Cadangan Logam Bumi Tak Cukup Untuk Semua Manusia? Cetak E-mail
Senin, 30 Januari 2006
Buana Katulistiwa - Menurut sebuah studi yang meneliti persediaan timah, tembaga dan logam lainnya, tidak selamanya sumberdaya alam yang terbatas tersebut dapat memenuhi kebutuhan populasi global, meskipun sudah termasuk yang didaur ulang.

Peneliti dari Yale University Robert Gordon dan Thomas Graedel beserta rekan mereka Marlen Bertram dari Organisation of European Aluminum Refiners melaporkan penemuan mereka 17 Januari lalu dalam "Proceedings of the National Academy of Sciences".

Penelitian yang disponsori oleh National Science Foundation (NSF) tersebut mengungkapkan bahwa jika semua negara menggunakan pelayanan sama dengan yang dinikmati oleh negara maju, maka penambangan logam habis-habisan dari kerak bumi dan program daur ulang yang digalakkan pun tak akan memenuhi kebutuhan di masa depan.

"Ada kaitan langsung antara persediaan wajib, standar hidup, dan teknologi yang digunakan pada saat itu," ujar Gordon. "Oleh karena itu kami memperkenalkan pendekatan yang berbeda untuk mempelajari pemanfaatan sumber-sumber daya alam terbatas, yang lebih berhubungan langsung dengan perhatian kepada lingkungan daripada diskusi-diskusi yang ditemui di dalam literatur ekonomi," imbuhnya.

Dengan menggunakan persediaan tembaga di Amerika Utara sebagai titik awal, para peneliti melacak evolusi penambangan tembaga, pemanfaatan dan kehilangan (use and loss) semasa abad 20. Kemudian mereka menerapkan penemuan mereka, serta data tambahan, untuk memperkirakan permintaan global untuk tembaga dan logam lainnya apabila semua negara telah maju dan menggunakan teknologi modern.

Studi tersebut, seperti dilansir www.nsf.gov, menyebutkan bahwa semua bijih tembaga, ditambah tembaga yang telah digunakan, akan dibutuhkan untuk membawa seluruh dunia ke tingkat yang sepenuhnya maju, yang digunakan untuk sambungan listrik, konstruksi dan produk serta jasa layanan lainnya yang bergantung kepada tembaga.

Dalam skala global, para peneliti memperkirakan bahwa 20 persen dari tembaga yang telah ditambang dari kerak bumi saat ini telah hilang di tempat sampah tanpa didaur ulang. Untuk timah, angkanya sebesar 19 persen. Harga yang berlaku tidak mempengaruhi prosentase kehilangan tersebut, karena persediaan masih cukup besar untuk mencukupi kebutuhan. Dan lagipula, metode-metode baru telah membantu para penambang untuk menggali material yang berlebih. Jadi, penelitian tersebut menganggap logam-logam tersebut tidak dalam resiko kelangkaan dalam waktu dekat.

Namun, para peneliti percaya bahwa logam-logam langka, seperti platina, menghadapi resiko akan habis pada abad ini akibat kurangnya bahan pengganti yang cocok untuk berbagai peralatan. Mereka juga mengungkapkan bahwa untuk beberapa jenis logam, rata-rata penggunaan per orang terus meningkat. Dan pada akhirnya logam-logam yang cadangannya lebih melimpah pun dapat menghadapi resiko kelangkaan di masa yang akan datang. (qb)

Komentar
tindak lanjut
Oleh arbi hartamu pada 2006-01-31 03:06:36
pemenuhan akan kebutuhan semakin menigkat sehinga penghematan diperlukan untuk kemajuan masa depan
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com