|
Buana Katulistiwa- Budaya barat (baca Amerika Serikat, AS) tampaknya sudah tidak mengenal batas termasuk ke negara yang terkenal sebagai musuhnya sejak empat dekade terakhir, Kuba, dengan berlangsungnya konser grup rock asal Seattle, AS, Audioslave.
Kelompok yang berkonser di Plaza Anti Imperialis Havana - yang dibangun lima tahun lalu sebagai tempat protes terhadap pemerintah AS - ini merupakan grup band pertama asal AS yang menggelar aksinya di arena terbuka dan ditonton oleh pengunjung dalam jumlah besar di Kuba, bersama dengan kelompok musik lokal, seperti dilansir situs BBC, Jumat (06/05) malam lalu waktu setempat.
Ini makin mengukuhkan anggapan bahwa musik rock, atau rock n' roll, merupakan ekspor dari AS yang paling sukses, walau banyak juga yang beranggapan bahwa musik rock adalah produk budaya Inggris.
Dengan mengantungi ijin yang sangat jarang didapat, ijin dari pemerintah AS dan Kuba, Audioslave menolak jika ada misi politik di balik konser mereka ini. "Anak muda di seluruh dunia itu sama saja. Kami sangat bangga dan senang menyajikan rock n' roll pada publik muda Kuba. Ini murni hanya musik, dan kebebasan ekspresi dalam bermusik mengalahkan semua batasan yang ada. Ini kesempatan yang langka, kami sangat berterima kasih dan tersanjung dengan dukungan dari kedua negara," demikian komentar Audioslave.
"Sangat menyenangkan bermain di tempat yang orang Amerika belum pernah melakukannya," ujar Chris Cornell, vokalis kelompok ini. "Juga menyenangkan menjadi band Amerika pertama yang datang dan bermain musik keras, itu saja. Ini hanya musik, titik," tambahnya.
Para personel kelompok yang cenderung sosialis ini tampil dalam rangka promo tur album baru mereka.
"Kami berharap ini merupakan awal dari sesuatu yang terus berlanjut," tambah Cornell lagi.
Pemerintah Kuba mengkategorikan musik rock sebagai subversif sejak tahun 1960-an. Pada masa itu, lelaki berambut panjang atau memiliki album The Beatles dianggap anti-revolusi. Tapi tampaknya kondisi ini akan berubah. Pertunjukan-pertunjukan kecil mulai dilangsungkan di beberapa klub, juga konser terbuka kelompok musik yang lebih keras. Bahkan Havana, ibukota Kuba, memiliki taman yang terdapat patung John Lennon.
Ketika The Manic Street Preachers, kelompok asal Inggris menggelar konsernya empat tahun lalu di Kuba, Fidel Castro, pemimpin Kuba yang terkenal anti-barat, duduk di barisan paling depan. Saat itu, konser mereka dikecam masyarakat barat mengingat catatan Kuba atas hak asasi manusia.
"Konser itu lebih keras daripada perang," kata Fidel Castro tentang konser pertama musisi barat di Kuba tahun 2001 itu.
Sebagai negara yang bertetangga, wajar saja jika dalam berkebudayaan mereka saling mempengaruhi. Kuba terkenal dengan musik dan tarian Mambo. Hanya saja perbedaan ideologi politik yang besar menjadi hambatan utama dalam empat dekade terakhir. Tetapi pada pertunjukan musik rock kali ini, yang dikhawatirkan adalah cuaca Havana yang terus mendung, dan panitia takut jika hujan akan mengacaukan jalannya pertunjukan. (ac) Powered by AkoComment! |