Pengarang : Hans-Dieter Evers & Rudiger Korff
Judul buku : Urbanisme di Asia Tenggara
Makna dan kekuasaaan dalam ruang-ruang sosial
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Edisi Pertama Juli 2002
Riset mengenai proses urbanisasi di negara
berkembang sangat dipengaruhi oleh teori-teori urbanisasi Eropa dan Amerika
yang berpendapat kota kecil (town) atau
kota besar (city) adalah pusat
kemajuan dan pembangunan, pusat perubahan sosial (hal 12). Kritik terhadap
teori urbanisasi diatas dikemukakan oleh Castells yang mengatakan kota tidak
otomatis sebagai pusat modernisasi dan belum tentu pula menghimpun semua
struktur modernitas.
Ada 5 macam teori klasik dan neo-klasik tentang
urbanisasi:
1. Teori-teori demografis tentang urbanisasi
dan migrasi. Teori-teori ini didominasi oleh model faktor pendorong-penarik,
yang memandang kota sebagai faktor penarik sedangkan desa sebagai faktor
pendorong. Teori-teori ini cenderung berifat deskriptif-analitis, yang terbatas
pada framework demografis.
2. Teori-teori mengenai sistem kota. Teori
ini mencakup antara lain kajian-kajian tentang hirarki kota dan tempat-tempat
sentral.
3. Teori-teori kultural kota. Teori ini lebih
memfokus diri pada aspek-aspek seperti “petani di perkotaan” atau budaya
miskin, atau aspek-aspek yang berhubungan dengan kesadaran sosial dan perubahan
citra ruang di kota.
4. Teori-teori
tentang diferensiasi ruang dan
sosial serta segregasi (pemencilan) di perkotaan, yakni ekologi sosial
dalam
pengertian luas. Analisis wilayah sosial diperkenalkan oleh Shevky dan
Bell,
dan ekologi faktorial yang dikembangkan Brian Berry. Model analisis
tersebut
telah banyak diterapkan dengan menggunakan teknologi komputer terbaru.
Dengan metoda ekologi faktorial dapat dilakukan analisis
data yang meragukan secara efektif dengan tingkat kesalahan yang
relatif kecil.
Masalah utama dengan pendekatan ini ialah sulit untuk menafsirkan
hasil-hasilnya atau memasukkannya ke dalam konteks teoritis. Sampai
sejauh ini
pendekatan ini belum terbukti dapat menjelaskan fenomena khas underdevelopment (keterbelakangan) kota atau
membedakannya dari struktur ruang kota-kota yang sudah maju dengan menggunakan
metode ekologi faktorial.
5. Teori-teori neo-dualis: dengan menggunakan
karya-karya penulis ekonomi politik perkotaan mazhab Perancis (Castell,
Lojkine, rangkumannya dalam versi bahasa Inggris ditulis oleh Pickvance, 1976)
dan tulisan para teoritis dualis lain, Milton Santos berupaya mengembangkan
teori kota Dunia Ketiga, yakni teori urbanisasi dependen. Penulis lain, Terry
McGee, menaruh perhatian terutama pada ekonomi bazar atau apa yang lebih
dikenal sebagai “sektor informal” dan ia telah berhasil menunjukkan hasil
penelitiannya yang berskala besar tentang pengasong yang merupakan unsur utama
dari sektor informal (McGee dan Yeung, 1978).
Secara
keseluruhan, kawasan Asia Tenggara lambat proses urbanisasinya, dan tingkatnya
pun lebih rendah dibandingkan kawasan lainnya. Di kebanyakan negara Asia
Tenggara, angkatan kerja sebagian besar masih bergerak di sektor pertanian yang
tinggal di desa-desa dan menganggap tinggal di kota sebagai hal yang istimewa
(hal 42). Tetapi di pihak lain, beberapa negara seperti Indonesia (Jakarta),
Filipina (Manila) dan Thailand (Bangkok) memiliki kota besar dengan penduduk
jutaan orang.
Urbanisasi
yang cepat dan terpusat hanya di satu kota utama mengakibatkan timbulnya
sejumlah masalah seperti kemacetan, polusi dan daerah kumuh. Dominasi
berlebihan kota utama menghambat pertumbuhan kota-kota yang lebih kecil, bahkan
dalam hal pertumbuhan dan perkembangan, kota utama berekspansi lebih cepat
dibandingkan kota kecil.
Rendahnya
tingkat urbanisasi keseluruhan, ditambah dengan terkonsentrasinya penduduk di
satu kota utama yang memiliki karakter heterogen, metropolitan dan
internasional bukan karakter nasional, serta adanya fakta bahwa kota-kota utama
(primate cities) ini masih muda (usia
dibawah 200 tahun) memperkuat kesan bahwa urbanisme memang asing bagi budaya
dan masyarakat Asia Tenggara.
Urbanisme
menjadi sesuatu yang asing bagi masyarakat Asia Tenggra akibat dari
Kolonialisme dan Westernisasi. Adanya fakta bahwa kota-kota sudah ada di Asia
Tenggara sejak dua ribu tahun lampau dan bahkan beberapa diantaranya sudah ada
yang cukup besar, bahkan lebih besar dari kota-kota di Eropa pada masa itu
(Wheatly, 1983). Terdapat
dua pola utama urbanisme di Asia Tenggara di jaman pra kolonialisme:
1. Kota dagang
Umumnya terletak di daerah pesisir. Kota dagang
paling makmur dan sentral posisinya dalam jaringan perdagangan internasional
adalah Malaka.
2. Kota suci
Umumnya terletak di pedalaman, merupakan
tempat kedudukan para raja, misalnya kota Angor.
Kedua macam kota ini saling berinteraksi dimana
kota dagang mensuplai barang-barang impor untuk konsumsi para elite, sedangkan
kota suci memasok beras dan barang-barang lain untuk konsumsi kota dagang.
Pada
jaman kolonialisme, urbanisasi sangat dipengaruhi oleh tujuan kedatangan
negara-negara asing ke Asia Tenggara serta metode perdagangan dan politik
diterapkan negara-negara Eropa tersebut di daerah kolonialisme masing-masing.
Perkembangan urbanisasi jaman kemerdekaan sangat dipengaruhi oleh semangat
nasionalisme, sedangkan pada tahun 1960an pola urbanisasi berubah kembali
dilandasi dengan ideologi pembangunan dan modernisasi.
Di
masa kini, perkembangan urbanisasi di Asia Tenggara rancu dan cenderung ruwet
untuk dianalisa. Salah satunya adalah kare di Asia Tenggara sulit untuk
menunjuk suatu gerakan yang benar-benar gerakan sosial kota, gerakan yang
berbasis pada permasalahan kota, sebab antara gerakan yang bertujuan untuk
mencapai perubahan politik secara umum dan gerakan kota sulit sekali dibedakan. Dalam
membahas urbanisasi penulis memasukkan unsur-unsur yang berpengaruh didalamnya,
baik ekonomi, sosial, politik, sejarah, budaya dan bahkan agama. Daerah-daerah
yang dibahas merepresentasikan kawasan Asia Tenggara walau tidak seluruh daerah
dibahas secara detail.
|
Versi Bahasa Inggris
|
|
|
Hardcover, 271 halaman
Penerbit: Palgrave Macmillan (February 10, 2001)
ISBN: 031223628X
Ukuran: 9,5 x 6,7 x 0,9 inci
|
Powered by AkoComment! |