Penulis : Kenichi Ohmae
Penerjemah : Ruslani
Penerbit : Qalam
Buku yang terdiri dari 276 hal dan xvii hal tambahan terbagi menjadi 9
(sembilan) bab dengan lampiran Epilog dan Apendiks yang berisi
tulisan-tulisan dari penulis lainnya. Buku ini berisi teori hal-hal
yang berbau ekonomi dan keuangan yang berkaitan dengan hubungan antar
negara di jaman modern.
Bagi orang awam dengan ilmu ekonomi dan
keuangan, buku ini enak dibaca karena penulis menjelaskan hal-hal yang
rumit melalui narasi dan contoh-contoh sehingga mudah untuk dimengerti.
Hanya saja terjadi terjemahan yang kurang pas disana sini yang agak
menyulitkan pembaca dan menganggu walau secara keseluruhan terjemahan
sudah baik.
Salah satu cara dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang apakah
kelompok-kelompok ekonomi seperti OPEC, G7, ASEAN, APEC, NAFTA atau Uni
Eropa menyediakan peluang terbaik bagi ekonomi? adalah dengan mengamati
4 I yaitu :
Investasi : tidak memiliki batasan geografis,
dapat dilakukan dimanapun yang diinginkan. Investasi tidak lagi
dilakukan dalam sekala lokal atau nasional saja, tetapi sudah mencapai
lintas negara.
Industri : orientasi saat ini jauh lebih
global dibandingkan 8 tahun yang lalu. Satu dasawarsa lalu, kepentingan
pemerintah menjadi satu persoalan, tetapi saat ini yang menjadi
orientasi perusahaan adalah hasrat dan kebutuhan melayani pasar dan
menguras sumber daya sebanyak-banyaknya.
Informasi: gerakan
investasi dan industri sangat bergantung terhadap teknologi informasi
(TI). Melalui TI sebuah perusahaan dimungkinkan beroperasi di berbagai
belahan dunia tanpa harus membangun seluruh sistem bisnis ditiap-tiap
negara di mana perusahaan itu memiliki perwakilan.
Individual
: yang dimaksud disini adalah konsumen dan sifat konsumerisme itu
sendiri. Dengan adanya akses informasi yang lebih baik mengenai gaya
hidup di seluruh belahan dunia, keinginan membeli tidak lagi
dikondisikan oleh larangan pemerintah untuk membeli produk-produk hasil
negara-negara tertentu hanya karena asosiasi-asosiasi nasional mereka.
Pada peta ekonomi lama, sektor pemetaan yang paling penting
harus berkaitan dengan hal-hal seperti lokasi penyimpanan bahan mentah,
sumber energi, sungai yang bisa dikendalikan, pelabuhan-pelabuhan
berair dalam, jalur kereta api, jalan-jalan beraspal dan batas-batas
nasional. Sebaliknya, pada peta ekonomi saat ini, sektor terpenting
adalah jejak-jejak yang dapat ditangkap oleh satelit, TV, wilayah yang
bisa dijangkau siaran radio, dan jangkauan geografis dari surat kabar
dan majalah. Informasi telah menggantikan kedekatan dan politik sebagai
struktur yang paling penting dalam membentuk aktifitas ekonomi. Tentu
saja lingkungan fisik dan batas-batas politik masih menjadi persoalan,
tetapi bukan persoalan utama (hal 41).
Penulis mengatakan bahwa di masa globalisasi seperti sekarang ini,
komunikasi dan informasi dapat dilakukan lintas batas dengan waktu yang
relatif cepat, tanpa ada batasan geografi, politik, budaya dan
sebagainya. Hal ini yang menyebabkan ekonomi tidak dapat dibatasi
batas-batas geografi, baik fisik, administrasi maupun politik. Dengan
demikian negara-negara yang menguasai komunikasi dan informasi akan
menguasai ekonomi. penulis menyebut negara-negara penguasa ekonomi
tersebut sebagai Triad, yaitu Jepang, Eropa dan Amerika Serikat.
Penulis mencontohkan barang-barang industri Jepang tidak lagi dibuat
di Jepang melainkan diproduksi di Cina, Indonesia atau Kamboja.
Demikian juga barang-barang Amerika, celana jeans Levi's dan minuman
Coca Cola tidak seluruhnya di produksi di Amerika Serikat kemudian
didistribusikan ke seluruh dunia, tetapi di produksi secara lokal untuk
pasar lokal. Kegiatan lintas batas tersebut membutuhkan kepemimpinan
manajerial yang kuat dan mengerti tentang budaya dan situasi lokal.
Manajer yang sanggup menguasai bahasa, selera dan budaya lokal akan
sanggup bertahan diposisinya. Contoh : Australia merupakan salah satu
negara pengekspor barang terbesar ke Jepang, tetapi sangat sedikit
manajer asli Australia yang menguasai bahasa jepang, sehingga
kebanyakan level manajer pada perusahaan-perusahaan Australia tersebut
merupakan orang Jepang.
Properti bukan milik bangsa dan negara. Tidak ada kepentingan
masyarakat dan negara dalam hal ekonomi, yang ada hanya kepentingan
individu dan ?uang'. Negara kawasan adalah unit-unit ekonomi, bukan
unit politik, dimana masyarakat negara kawasan hanya memiliki fokus
lokal (hal 132). Contoh negara kawasan adalah Sigapura. Mereka menerima
investasi, produk asing atau apapun yang akan membantu agar masyarakat
mereka bisa bekerja secara produktif, meningkatkan kualitas hidup
mereka dan memberikan akses untuk memperoleh produk paling baik dan
paling murah. Itulah mengapa warga Singapura dapat menikmati produk
pertanian yang lebih baik dan murah dibandingkan orang Jepang walau di
Singapura tidak ada pertanian.
Dilihat dari perkembangannya, model negara kawasan akan menjadi
?trend' di masa mendatang. Pemerintah yang hanya mementingkan
batas-batas geografi dan politik tidak akan mengalami kemajuan ekonomi.
Yang perlu disiapkan dalam menyongsong bentuk negara kawasan adalah
sumber daya manusia yang profesional. Seperti yang banyak dilakukan
akhir-akhir ini, menyewa tenaga ahli lebih mudah dibandingkan membangun
tenaga ahli. Contoh : Jepang menyewa sutradara Hollywood terkenal untuk
membuat film Jepang sekelas Hollywood dari pada ?membangun' Hollywood
di Jepang.
Negara kawasan bukanlah dan tidak harus menjadi musuh pemerintah
pusat. Bila ditangani dengan bijak maka pintu-pintu masuk menuju
ekonomi global mungkin lebih terbuka. Beberapa contoh negara kawasan di
dunia : Batam (Indonesia), Hongkong (Cina), Penang (Malaysia), Silicon
Valley Bay Area (California), Pusan (Korea), Fukuoka dan Kyushu
(Jepang).
|
Versi Bahasa Inggris
|
|
|
Paperback, 224 halaman
Penerbit: Touchstone (May 15, 1996)
ISBN: 0684825287
Ukuran: 9,2 x 6,2 x 0,6 inci
|
Powered by AkoComment! |