 Judul buku : Geosains
Pengarang : Bayong Tjasyono HK
Penerbit : ITB
Geosains adalah ilmu yang mempelajari bumi sebagai anggota planet dalam
tata surya. Lingkup geosains meliputi bumi dalam tata surya, bumi
bagian gas atau atmosfer, bumi bagian cair atau hidrosfer, bumi bagian
padat atau litosfer dan fenomena fisis yang terjadi di bumi. Geosains
menekankan interaksi manusia dengan alam dalam lingkup fenomena fisis.
Tata surya
terdiri atas Matahari dan 9 planet yang mengelilinginya yaitu Merkurius, Venus,
Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto, serta benda planet
lainnya seperti satelit, asteroit, komet dan meteor. Setiap planet diikuti oleh benda langit yang lebih kecil disebut
satelit. Dari 9 planet di dalam tata surya, hanya Merkurius dan Venus yang
tidak memiliki satelit.
Asteroid berjumlah ribuan, sebagian besar berada dalam ruang antara lintasan Mars dan
Jupiter pada jarak antara 3 - 4 kali jarak rata-rata Matahari - Bumi. Asteroid
tidak berbentuk bulat seperti planet melainkan berbentuk bongkahan dengan sisi
yang tidak terdeskripsi secara geometris. Kadang-kadang asteroid disebut
planetoid yang asal muasalnya masih diperdebatkan hingga saat ini. Asteroid
pertama kali ditemukan pada tanggal 1 Januari 1801 oleh Piazzi dan diberi nama
Ceres.
Komet biasa
disebut juga dengan bintang berekor. Ekor komet merupakan bagian dari kepala
komet yang terhembus dari tempatnya akibat gaya dorong Matahai yaitu radiasi
dan angin Matahari (solar wind).
Energi ini yang menyebabkan ekor komet selalu menjauhi matahari. Meteor adalah
fenomena emisi cahaya dalam atmosfer bumi. Meteor sering disebut bintang jatuh.
Model tata
surya:
Lebih dari 2000
tahun yang lalu telah diterima model sistem matahari geosentris yang
dikemukakan oleh ahli astronomi Yunani kuno, Hipparchus pada tahun 140 Sm
(sebelum masehi). Dalam model geosentris dikemukakan bahwa Matahari, bintang,
planet dan bulan bergerak mengelilingi bumi. Teori ini kemudian dikembangnkan
oleh Claudius Ptolemaeus sekitar tahun 150 TM (tarik masehi) yang disebut teori
Ptolemaeus.
Ahli astronomi
Yunani, Aristarchus (310 - 230 SM), pernah menyarankan bahwa matahari mungkin
berada pada pusat alam semesta dan bumi mengitarinya. Konsep heliosentris ini
belum mendapat tempat dalam bidang astronomi. Baru pada tahun 1543 terjadi
revolusi ilmiah besar-besaran karena Copernicus (1473 - 1543) mengganti model
Geosentris dengan model Heliosentris yang lebih sederhana.
Bumi
diperkirakan lahir 4,5 milyar tahun yang lalu. Umur bumi dapat diperkirakan
dengan ditemukannya materi radioaktif. Bumi berotasi mengelilingi sumbu
imaginernya dengan periode 23 jam 56 menit dan berotasi dari barat ke timur,
akibatnya benda-benda langit tampak melakukan peredaran semu dari timur ke
barat. Bumi juga melakukan revolusi mengelilingi matahari dengan periode 365,3
hari. Pada tanggal 21 Maret dan 23 September kedudukan matahari tepat di
ekuator disebut ekinoks. Pada tanggal 22 Juni dan 22 Desember keduduka matahari
berada paling jauh dari ekuator disebut Solstis.
Planet-planet
yang berada diantara Matahari dan bintang berevolusi terhadap matahari dengan
orbit berbentuk lingkaran. Model Copernicus tentang orbit planet kemudian
disempurnakan oleh Johannes Keppler (1571 - 1630) yang menjadikan orbit planet
bukan lingkaran tetapi elip.
Selama planet berevolusi
mengelilingi Matahari, yang disebut tahun laneter, jarak antara planet dan
Matahari berubah. Bila planet mendekati matahari dikatakan planet berada pada
perihelion (bahasa Yunani Peri artinya disekitar atau dekat, dan Helios artinya
Matahari). Sebaliknya bila planet berada pada jarak terjauh dari matahari
dikatakan planet berada pada Aphelion (bahasa Yunani Ap artinya jauh). Bumi
berada pada Aphelion dalam bulan Juli dan Perihelion dalam bulan Januari.
Empat planet
yang terdekat dengan matahari yaitu Merkurius, Venus, Bumi dan Mars disebut
planet dalam dan planet sisanya yaitu jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan
Pluto disebut planet luar. Pluto belum pasti planet, beberapa ahli astronomi
percaya bahwa pluto adalah sebuah satelit Neptunus yang terlepas. Semua planet
berevolusi mengelilimgi Matahari dalam ara yang sama. Semua planet kecuali
Uranus berotasi dalam arah yang sama disekitar sumbunya. Semua orbit planet
kecuali Merkurius dan Pluto terletak dalam bidang yan sama. Bidang orbit bumi
disebut ekliptika.
Dari kenyataan
bahwa planet-planet terletak hampir pada bidang datar disekitar matahari, maka
pembentukkan tata surya, yaitu planet-planet menurut hipotesisi teori lahir
Matahari atau difuga kelahiran itu dari ujud yang sama dengan Matahari.
- Hipotesis kabut atau teori Kondensasi
(pengentalan)
Teori yang
terkenal dengan pembentukan Matahari dan planet-planet didasarkan pada
hipotesis kabut (Nebular). Teori ini yang pertama kali dikemukakan oleh ahli
filosofi Jerman, Immanuel Kant pada tahun 1755, kemudian dikembangkan oleh ahli
matematika Perancis, Pierre Laplace pada tahun 1796.
Menurut
hipotesis kabut, matahari dan planet-planet berasal dari kabut pijar yang
berpilin di dalam jagad raya. Akibat perputaran, sebagian massa kabut terlepas
dan membentuk gelang-gelang disekeliling bagian utama gumpalan kabut tersebut.
Gelang itu lambat laun membentuk gumpalan yang kemudian memadat menjadi planet.
Pada awal abad
ke 20, dua orang ilmuan Amerika TC Chamberlain (1843 - 1928) dan FR Moulton
(1872 - 1952), mengemukakan teori Planetisimal. Menurut teori mereka, didalam
kabut terdapat material padat yang berhamburan, yang disebut Planetisimal.
Benda-benda padat ini kemudian saling menarik dengan gaya tariknya
masing-masing dan lambat laun terbentuk gumpalan besar yang disebut planet.
- Teori Vorteks dan Protoplanet
Teori
Planetisimal dan teori modern pada dasarnya berawal dari hipotesisi kabut Kant
dan Laplace. Teori modern dikembangkan oleh teori ini. Pertama, Nebula (kabut)
mula-mula bergolak (turbulen), tidak diam. Gerakan nebula ini membantu
pembentukan planet. Kedua, pembentukan planet sekurang-kurangnya melalui dua
proses yaitu pembentukan Planetisimal dan Protoplanet (gumpalan kabut gas).
Menurut Von
Weiszacker, Nebula terdiri atas vorteks-vorteks (pusaran-pusaran) yang
merupakan sifat gerakan gas. Gerakan gas dalam Nebula menyebabkan pola sel-sel
yang bergolak (turbulen). Pada batas antar sel-sel turbulen, terjadi tumbukan
antar partikel yang kemudian membesar danmenjadi planet. Teori yang dikemukakan
oleh Von Weiszacker ini disebut teori vorteks.
Kuiper
mengemukakan bahwa planet terbentuk melalui turbulensi (golakan) Nebula yang
membantu tumbukan Planetisimal sehingga Planetisimal membentuk menjadi
Protoplanet dan kemudian menjadi planet. Teori yang dikemukakan oleh Kuiper ini
disebut teori Protoplanet.
Mulai bab 4
sampai bab 6 buku ini mengulas tentang bumi yang terdiri dari hidrosfer,
atmosfer dan litosfer. Sedangkan dua bab terakhir berisi tentang fenomena alam.
Fenomena fisis alam sering menimbulkan bencana misalnya badai guruh,
kekeringan, banjir, El Nino, La Nina, siklon tropis, arus dan gelombang laut,
vulkano, gempa bumi dan tsunami. Indonesia termasuk negara paling sering
dilanda bencana alam, terutama bencana kebumian.
Badai guruh
merupakan fenomena fisis atmosfer yang sering terjadi di Indonesia. Fenomena
ini dapat menimbulkan korban jiwa akibat sengatan luah listrik pada waktu
terjadi petir. Wilayah Indonesia termasuk salah satu daerah yang paling sering
dilanda petir di dunia, ini disebabkan wilayah Indonesia termasuk daerah
konveksi yang aktif.
Siklon tropis
merupakan bencana alam yang paling dahsyat dibandingkan bencana alam lainnya.
Beruntung daerah Indonesia tidak terkena jalur siklon tropis sehingga dampaknya
tidak secara langsung tetapi melalui cuaca, yaitu peningkatan curah hujan,
kecepatan angin dan tinggi gelombang laut.
Dampak yang
ditimbulkan oleh fenomena alam El Nino dan La Nina terhadap wilayah Indonesia
cukup besar. El Nino tahun 1982/1983 dan 1997/1998 menyulut kebakaran hutan
yang tidak terkendali di Kalimantan dan menewaskan ratusan sampai ribuan
penduduk. El Nino menyebabkan kekeringan atau kemarau panjang sedangkan La Nina
menyebabkan banjir atau kemarau pendek di Indoensia.
Gempa bumi
adalah bencana alam yang sering melanda wilayah Indonesia karena Indonesia
dilalui 2 sabuk seismik yaitu sabuk seismik lingkar pasifik dan Mediteran.
Indonesia juga mempunyai banyak gunung api atau vulkano terjadi jika magma
dengan kekentalan tinggi mempunyai kandungan gas tinggi. Magma yang kurang
kental dengan kandungan gas kecil akan mengalir dengan tenang.
Powered by AkoComment! |