|
Buana Katulistiwa - Kebahagiaan meliputi keluarga besar Buana Katulistiwa hari Minggu, 27 November ini. Rekan kami, Musnanda Satar, yang akrab disapa “Nanda” atau “Nando” ini resmi melepaskan masa lajangnya, dengan mempersunting Donna Elvira atau “Donna”.
Akad nikah termasuk resepsi pernikahan mereka berdua dilakukan di Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta Selatan, Minggu (27/11). Nanda adalah anak dari Bapak Sataruddin Unus (Alm) dan Hj Rosda, sedangkan Donna, yang juga sama-sama lulusan Geografi UI, adalah puteri dari Bapak H Suharyo dan Hj Sutriani.
Nanda, yang kini sudah berusia 43 tahun, eh maaf, 34 tahun, merupakan salah satu dari pendiri dan anggota dewan pembina Yayasan Buana Katulistiwa, yang terus setia mengawal perjalanan lembaga ini sejak didirikan 14 Juli sepuluh tahun lalu, bersama-sama Taqiyuddin, Jones Sirait dan Lutfil Hakim, tiga generasi, hingga kepengurusan terbaru di bawah Tri Agus Prayitno dan kawan-kawan saat ini.
Soal “jeruk makan jeruk” alias mempersunting sesama geografer, Nanda memang bukan
“members” kesepuluh, tapi sudah tak terbilang di lingkungan geografi. Sebut saja, di kalangan keluarga besar Yayasan Buana Katulistiwa misalnya, Lutfil Hakim yang mempersunting adik kelasnya Firdausi (Ossy), atau Agustiar Ramdhani (Adut) dengan Odet.
Nanda masuk Geografi UI pada tahun 1989, dan setelah lulus dia sempat “berkelana” bersama World Wild Fund (WWF), dan sebuah perusahaan mining di Sulawesi Utara, lalu bergabung dengan WWF lagi dengan lokasi kerja di Biak, Papua. Setelah itu, dia memilih untuk “mengasah ilmu” lagi dengan mengambil S2 di ITB. Lulus dari ITB tahun 2005 ini, dia sempat menyatakan keinginan untuk bergabung dengan WWF lagi, tapi entah kenapa dia malah “bergabung” dengan UNDP (United Nation Development Program) dan “terbang” ke Papua lagi.
Nanda memang sosok yang punya spesialisasi aplikasi sains dan teknologi geospasial (remote sensing, GIS, GPS) sejak lebih sepuluh tahun lalu, aktivis yang gigih dalam aplikasi pemetaan partisipatif, termasuk dalam bidang “regional planning” meskipun dia mengaku sebagai “anti-planning”. Dia terbilang sosok yang “multi gagasan” yang kadang menyesali diri bahwa jangan-jangan “dia terlalu banyak menyampaikan mimpi”.
Terus terang, ada kekhawatiran dalam diri kami, keasikan bekerja dari pria yang memang gila kerja ini, akan membuat dia lupa untuk menikah. Dan ketika kami mendengar dia akan ke Papua lagi, makin besar kekhawatiran kami bahwa dia akan jatuh cinta dengan Papua dengan segala keramahan penduduk dan alamnya, lalu melupakan Jakarta, termasuk Donna.
Ternyata kami keliru. Dia kali ini rupanya membuktikan bahwa dia bisa kawin, eh, menikah, di tengah ribuan candaan konyol (dan benar-benar ngerjain hehehe…) terus dialamatkan kepadanya oleh teman-teman di Buana Katulistiwa.
Selamat berbahagia kepada Nanda dan Donna. Semoga banyak anak. (bj) |