|
Buana Katulistiwa - Bukan hanya tidak tahu letak suatu tempat di Indonesia, para pemuda sepertinya kurang peduli perkembangan negerinya sendiri, bahkan persepsi geografis yang dimilikinya mengenai Indonesia cenderung memprihatinkan.
Kesimpulan ini tidak mengada-ada. Muharam Bayu, staff publikasi Buana Katulistiwa (BK), mengungkapkan hal tersebut di sela-sela pameran pada kegiatan MusiKhatulistiwa, di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Jum?at lalu (21/4).
Dalam acara yang diselenggarakan oleh BEM UI tersebut, BK diminta untuk mengisi salah satu stand pameran yang terletak di tengah-tengah arena lokasi kegiatan. Setelah menggabungkan berbagai ide yang dilontarkan oleh kawan-kawan dan BK sendiri, kru BK memilih tema ?Indonesia di Benak Kita?. Tema tersebut dipilih dengan salah satu tujuan untuk mengetahui seperti apa persepsi geografis para pengunjung ? yang mayoritas mahasiswa ? terhadap negerinya sendiri, di samping untuk mendapatkan gambaran seluas apa wawasan mereka mengenai Indonesia.
Untuk mewujudkan tema stand tersebut, kru BK membuat sebuah peta Indonesia yang digambar pada papan berukuran 2,4 m x 1,2 meter. Isi peta sengaja diminimalisir, hanya terdapat titik-titik ibukota provinsi, garis pantai, nama-nama laut dan selat-selat penting, serta batas negara dan batas laut teritorial. Pada peta tersebut, pengunjung diminta menempelkan stiker berukuran 4 x 1.5 cm yang telah ditulisi persepsi mereka terhadap suatu tempat di Indonesia.
 Peta Indonesia di Benak Kita
Dari ratusan pengunjung yang mendatangi stand, sekitar setengahnya menempelkan persepsinya di papan yang disediakan setelah sedikit bertanya-tanya, sedangkan sisanya hanya melihat-lihat dan tersenyum membaca berbagai macam persepsi yang telah ditulis pengunjung sebelumnya.
Komentar-komentar yang mengundang senyum seperti; "AWAS DALEM"; "Pengen tenggelam di sini", "Jogja I?m n Love"; "gw mau pulang kampung, opung aku sayang opung", hingga komentar-komentar kritis seperti; "stop!! Illegal logging"; "Ambalat belong to us"; "di sini bunuh sodara sendiri gak papa"; "Irianku negeri kaya SDA tapi negeri yg paling minim SDM Salah siapa?"; "Awass!! Jual Beli Pulau"; telah memancing para pengunjung untuk mengamati dengan lebih dekat hingga ingin menuliskan persepsinya sendiri. Namun tidak sedikit juga persepsi-persepsi yang tidak berhubungan dengan tempat, seperti; "Bom, bisa di mana saja", "Aku Cinta Indonesia", "Unity in sportivity", dan lain-lain.
 Persepsi Geografis Para Pengunjung
Satu hal yang disayangkan, nampaknya wawasan geografis sebagian besar pengunjung masih sebatas Jakarta, Jawa-Bali dan Sumatera. Hal ini terlihat dari sebaran persepsi yang tertulis, yang sebagian besar terpusat di Jawa dan Sumatera. Di luar pulau-pulau tersebut, kebanyakan berisi isu yang pernah hangat di media, seperti masalah politik, sosial dan keamanan di Indonesia. Itu pun pengunjung kerap menanyakan dulu di mana lokasi yang benar kepada kru BK sebelum menempelkan persepsinya pada papan.(dp/qb)
|