 Jakarta - Dua lembaga yaitu Ikatan Alumni Penatar Tenaga Inti Targati Bela Negara (Ikal Targati Bela Negara) dan Yayasan Buana Katulistiwa dalam waktu dekat akan meluncurkan program "Utamakan Indonesia", yang dimaksudkan untuk menggelorakan kembali semangat mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan kelompok, sebagai upaya membangkitkan kepercayaan diri dan penghargaan terhadap bangsa dan negara dalam pelaksanaan pembangunan di semua bidang.
Menurut keterangan Ketua Umum Ikal Targati Bela Negara Arief Gunawan, di Jakarta, kemarin, kegiatan dalam program ini akan terdiri dari pencanangan, aksi simpatik, kampanye dan pembentukan kelembagaan.
"Pencanangan dan aksi simpatik dilaksanakan pada 16 Agustus 2005. Dalam aksi simpatik yang berlangsung sore hari, kami akan turun ke jalan dengan sejuk dan damai, membagikan bendera merah putih dan stiker dengan logo 'Utamakan Indonesia'. Diharapkan dimanapun nanti merah putih itu berada dan ditempelkan, maka semangat di dalamnya akan tetap hidup," kata Arief Gunawan.
Selain turun ke jalan, gerakan menyebarluaskan spirit keutamaan bangsa tadi pada tahap awal diharapkan akan tersebar di seluruh tempat yang terkait dengan publik milik pemerintah, seperti pencantuman logo pada website, kendaraan-kendaraan dinas, pintu masuk dan keluar bandara, jalan-jalan raya, tol, kop surat, atau media internal yang diterbitkan berbagai kalangan.
"Kami sedang mengupayakan pendekatan dengan berbagai pihak. Gerakan ini nanti akan berlanjut bukan hanya pada bulan Agustus, atau terbatas pada instansi pemerintahan saja, melainkan seluruh instansi nonpemerintahan dan kemasyarakatan yang ada di Jakarta, daerah dan luar negeri. Untuk mengelola ini sebagai gerakan yang berkelanjutan maka kami mengusulkan pembentukan lembaga tadi," ujar Arief Gunawan.
Pelan-pelan, akan dilakukan pula upaya penjabaran teknis apa yang dimaksud dengan utamakan Indonesia untuk setiap sektor, misalnya bagaimana harusnya sektor industri dan perdagangan menterjemahkan gerakan ini dalam implementasi kinerjanya. Juga bagaimana teknis subtema mencintai produk Indonesia sebagai upaya bangkitnya industri dalam negeri. Begitu pula terhadap sektor lain seperti luar negeri, pendidikan dan lainnya. Karena berbagai pihak yang berkompeten dalam bidangnya akan dilibatkan dalam masalah ini.
Dikatakan, kegiatan ini merupakan gerakan moral kebangsaan sehingga tidak ada sanksi, dan juga sedapat mungkin dilakukan dengan tidak berkesan untuk menggurui atau mendikte. Demikian pula gerakan ini murni dari masyarakat, tidak terkait dengan partai politik atau gerakan politik-politikan.
"Kami benar-benar hati-hati, tidak ada maksud menggurui, sebab kita sama-sama anak bangsa ini. Satu kepercayaan bagi kami bahwa walaupun diantara kita selalu terlibat perbedaan pendapat bahwa konflik, tapi kita memiliki penghargaan yang sama kepada Indonesia. Kita respek terhadap merah-putih dan berharap semua pihak yang memiliki semangat yang sama juga berpartisipasi dalam gerakan ini."
Danu Pujiachiri dari Yayasan Buana Katulistiwa menambahkan, khusus untuk gerakan kampanye ini sebenarnya sangat sederhana dan terjangkau oleh semua pihak. Pertama-tama adalah dengan menyebar logo yang dirancang khusus yang terdiri dari gambar Garuda, merah putih, peta Indonesia dan tulisan "Utamakan Indonesia".
"Tahap berikutnya mungkin akan kita pilih tema lainnya. Di luar negeri saja kita lihat bukan main kampanye negara itu bagi upaya membangkitkan kecintaan kepada bangsanya. Itu memang bukan ukuran tapi menjadi pertanda bahwa kebanggaan mereka tetap ada terlepas dari perbedaan pendapat atas suatu kebijakan negara," kata dia.
Perhatian kami, kata Danu, kita ingin semua orang terlibat dalam mengetahui dan memahami Indonesia. Adalah keprihatinan bahwa bangsa besar ini, misalnya, banyak masyarakatnya tidak mengetahui geografis Indonesia
"Sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang informasi geografis, kami merasa terpanggil untuk ikut mengajak masyarakat mengenal Indonesia sejak dini. Yayasan kami sendiri memiliki program apa yang kami sebut sebagai 'Geografi Indonesia Untuk Anak', sehingga tidak melulu apa yang dikonsumsi oleh anak-anak Indonesia itu adalah geografi impor," kata dia.
"Kami dengan Ikal Targati Bela Negara sepakat bahwa bagaimana mungkin mencintai Indonesia kalau tidak mengenal geografi Indonesia dengan baik," sambung Danu.
Menghargai Indonesia
Diakui Arief, dalam banyak peristiwa di tanah air, sulit untuk mengharapkan adanya penghargaan terhadap bangsa dan negara. Barangkali, kata dia, orang selalu bertanya bahwa persoalan kepentingan bangsa seringkali hanya dipakai sebagai dalih untuk tidak memberikan yang terbaik terhadap rakyat.
Padahal, kata dia, itu ulah oknum-oknum yang justru melawan bangsa, sebab mendahulukan bangsa, juga berarti harus berlaku jujur dan adil serta pro kepada rakyat. Entah dia rakyat kecil atau penguasa atau pengusaha sama-sama harus memiliki penghargaan kepada bangsanya.
"Banyak orang mungkin mengatakan gerakan semacam ini tidak populer atau kuno. Kami siap untuk disebut begitu. Yang jelas, dalam kondisi sekarang inilah harus ada yang berdiri tegak untuk menyuarakan semangat kebangsaan ini, tidak meluntur semua sampai-sampai ada yang ragu apakah kita ini bangsa Indonesia atau apa, bahkan terkesan Indonesia sudah tak dihargai lagi. Kita harus mengembalikan kepercayaan diri yang sudah terkikis itu, dan harus ada yang berdiri menyampaikannya, tanpa terseret politik-politikan," begitu Arief.
Dikatakan, semangat kebangsaan memang tampak terdegradasi. Hal itu antara lain dapat terlihat dari tersingkirnya lambang-lambang atau simbol-simbol seperti "merah putih", "Pancasila" bahkan kata "Gotong Royong", "Persatuan dan Kesatuan" dan lainnya.
Padahal di negara-negara lain, hal-hal itu terus digelorakan sebagai spirit untuk semakin kuat, maju di tengah pergaulan bangsa-negara di dunia.
"Terlepas dari buruknya citra AS di luar negeri, tapi di dalam negerinya kita tetap menyaksikan anak-anak yang menyanyikan lagu kebangsaan dengan tangan di dada, juga di Jepang atau Korea, misalnya para kontraktor menggerek bendera sebelum memulai bekerja. Ada respeksitas di sana, yang kemudian menjadi pendorong mereka untuk bekerja dan berkarya lebih baik demi kemajuan dan kesejahteraan bangsanya."
Menurut Arief Gunawan, kekuatan masyarakat khususnya sipil sangat penting dalam hal ini, sebagai bagian penting dari konsepsi sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata). Dalam menghadapi perang yang lebih banyak adalah nonfisik saat ini, sumbangsih sipil dalam semua profesi diharapkan dapat bangkit sebagai benteng kokoh dari serangan bangsa lain dalam berbagai bentuknya.
"Kita harus kembalikan lagi semangat itu. Kita harus menjadi bangsa yang tegak, dan jangan terjebak pada pertengkaran atau konflik terus menerus yang justru dikehendaki orang-orang asing, sehingga kita tak sempat untuk membangun bangsa kita. Gerakan 'Utamakan Indonesia' ini menjadi awal yang diharapkan menggugah kita semua," begitu Arief Gunawan. (*)
Untuk konfirmasi:
Arief Gunawan : HP 0816853847
Danu Pujiachiri : HP 081317211931
|