|
Buana Katulistiwa- Aksi simpatik "Utamakan Indonesia" dilakukan pada Selasa (16/8) di Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta. Sebuah baliho besar dan bendera merah putih terpanjang di Indonesia, dilingkarkan mengelilingi air mancur.
Aksi simpatik yang menandai diluncurkannya Gerakan Utamakan Indonesia ini diikuti oleh ratusan massa dari berbagai organisasi, sekolah dan perseorangan, yang memenuhi Bunderan HI sejak pukul 15.00 WIB, dilakukan dengan damai, sejuk dalam nuansa persahabatan.
Stiker, bendera merah putih dan bunga pun dibagikan ke para pengguna jalan, yang juga menyambut dengan senang hati sambil sesekali mengacungkan jempol kepada para peserta aksi.
Berbagai spanduk dan poster yang digelar para peserta aksi simpatik ini antara lain berbunyi "Kami Bangga dan Cinta Sebagai Bangsa Indonesia", "Cinta Lingkungan = Cinta Tanah Air", "Cinta Produk Indonesia", "Utamakan Indonesia, Dahulukan Kepentingan Bangsa".
Kegiatan ini sendiri digagas oleh Ikal Targati Bela Negara dan Yayasan Buana Katulistiwa sebagai upaya awal untuk membangkitkan kembali semangat kepercayaan diri dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, melalui tindakan yang mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi ataupun kelompok.
Menurut Ketua Umum BKP Ikal Targati Bela Negara Arief Gunawan di sela-sela jalannya aksi, mendahulukan kepentingan bangsa ini menjadi sangat mendasar dalam upaya bangsa berlari mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain dalam berbagai bidang.
"Kebangkitan Indonesia dalam bidang sains dan teknologi, ekonomi misalnya, harus didorong oleh kecintaan dan penghargaan kita pada Indonesia. Pelajar mahasiswa, peneliti harus didorong maju, tapi anggaran serta dukungan swasta juga harus disiapkan itu hal seimbang sebagai bentuk keutamaan bangsa tadi. Sebab keutamaan bangsa bukan satu arah, tapi dua-tiga arah. Siapapun tak bisa mendikte utamakan bangsa, tapi harus berjalan paralel pemerintah, para elite, swasta ataupun masyarakat. Malah, sebenarnya dalam kegiatan ini mengandung makna seruan kita kepada para elite untuk memberikan teladan untuk hal ini. Jika di tingkat elite sudah muncul maka rakyat yang di bawah itu pasti akan mendukung," kata Arief.
Dia mengakui, untuk membangkitkan kesadaran memang tidak cukup hanya dengan aksi simpatik atau kampanye, tapi harus diikuti dengan berbagai kegiatan lain secara lebih teknis dengan berbagai pendekatan serta dilakukan berkesinambungan. Misalnya, perlu dirumuskan lebih rinci apa saja yang dimaksud dengan Utamakan Indonesia dalam tiap sektor.
Dalam konteks itu pula, peran pemerintah dan para elite pada tahap awal ini sangat mendasar. Pemerintah harus menunjukkan sikap-sikap yang mendahulukan bangsa dalam setiap gerak langkahnya, serta mendorong untuk bergulirnya gerakan ini dengan berbagai kekuatan yang dimilikinya, untuk dapat mengundang sikap serupa dari pihak lain.
Arief juga mengatakan, kegiatan aksi ini hanya sebagai awal. Segera pihaknya akan melanjutkannya dengan program-program lanjutan, yang tetap membawa bendera 'Utamakan Indonesia'. "Yang jelas, kita telah mencoba untuk berbuat sesuatu, dan pelan-pelan akan bergulir terus," katanya.
Diingatkannya, gerakan ini adalah murni gerakan moral kebangsaan dan kemasyarakatan, bukan gerakan yang terlibat dalam dukung-mendukung kekuatan politik tertentu.
"Jika ada concern kita adalah kebangsaan. Saya sangat bersyukur pada aksi simpatik ini, semua massa yang hadir datang atas kesadaran sendiri, bukan karena dibayar atau apapun. Sejak awal memang telah menjadi komitmen kita lebih baik segelintir yang datang asalkan mereka itu memang dari panggilan hati nurani. Ini bukti bahwa memang masih banyak anak bangsa ini yang masih mencintai Indonesia. Tinggal kita tunggu suara dan tindakan yang sama dari para elite kita," begitu Arief. (bj)
Dalam berita:
|